Home Aceh Tapak tilas khilafah di Nusantara

Tapak tilas khilafah di Nusantara

Oleh: Afnida Selvia Gultom, S.Si

Pengamat Media Literasi

Belakangan ini, kata khilafah kian bergeming di nusantara. Banyak tuduhan negatif yang disematkan pada kata khilafah dan para pejuangnya. Namun, alamiahnya semakin sering dibincangkan, semakin menimbulkan tanda tanya yang besar ditengah-tengah masyarakat, apa itu khilafah ? benarkah khilafah mengancam Nusantara, benarkah NKRI anti terhadap khilafah ? Dengan demikian, anak bangsa menorehkan sebuah karya untuk menguak sejarah yang sesungguhnya dengan melakukan penelitian untuk menapaktilasi kembali khilafah di Nusantara, yang ditayangkan perdana pada 20 Agustus 2020 yang lalu.

 

Nusantara masih menyimpan peninggalan-peninggalan masa lalu, seperti peninggalan bangunan-bagunan, budaya, bahkan semangat juang untuk memperoleh kemerdekaan pada masa silam juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah Islam di Nusantara. Hal ini menunjukkan poin penting yang tidak bisa dinafikkan oleh siapapun, bahwa Islam sangat berpengaruh.

 

Dengan menjelajahi bumi pertiwi, ditemukan bahwa sejarah Islam erat hubungannya dengan kekhilafahan, Sri Sultan Hamengku Buwono X saat memberikan sambutan dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI di Yogyakarta, tahun 2015. Beliau mengungkapkan hubungan Khilafah Utsmaniyah dengan Tanah Jawa. Sultan Turki Utsmani meresmikan Kesultanan Demak pada tahun 1479 sebagai perwakilan resmi Khalifah Utsmani di tanah Jawa. Peresmian tersebut, lanjut Sri Sultan, ditandai dengan penyerahan bendera hijau bertuliskan kalimat tauhid. Bendera hadiah Sultan Utsmani masih tersimpan baik di Keraton Yogya. Menurut dia, Sultan Turki pula yang mengukuhkan Raden Fatah sebagai khalifatullah di Jawa. Perwakilan Khilafah Turki di Tanah Jawa ditandai dengan penyerahan bendera hitam dari kiswah Ka’bah bertuliskan kalimat tauhid, juga bendera hijau bertuliskan Muhammad Rasulullah.

 

Sebelum itu, hubungan Nusantara dan Khilafah telah terjalin sangat erat di Aceh. Koran Sumatera Post menulis, pejabat Belanda mengakui bahwa banyak sultan-sultan di Indonesia memberikan baiatnya (sumpah kesetiaan dan kepatuhan) kepada Khalifah di Istanbul. Dengan itu secara efektif kaum Muslim di wilayah Sultan itu menjadi warga Negara Khilafah. Kaum Muslim di Aceh adalah yang paling menyadari akan status mereka. Koran Sumatera Post menulis tentang ini pada tahun 1922: “Sesungguhnya kaum Muslim Aceh mengakui Khalifah di Istanbul.” Mereka juga mengakui fakta bahwa tanah mereka adalah bagian dari Negara Islam. Ini adalah salah satu alasan atas perlawanan sengit mereka melawan Belanda (Tabayyun Center).

 

Tidak hanya itu, namun mayoritas penduduk nusantara menjadi Muslim tak lepas dari dakwah yang disampaikan oleh para dai yang diutus oleh Khilafah. Islam yang telah dianut oleh mereka secara sadar sangat berpengaruh dalam dinamika kehidupan bangsa dan negara ini, termasuk dalam tahap-tahap awal perjuangan kemerdekaan. Itu semua tidak bisa lepas dari jasa para khalifah pada masa lalu yang tak henti melancarkan dakwah ke seluruh penjuru dunia, khususnya ke negeri ini. Bukti-bukti itu masih sebagian kecil dari tapak tilas khilafah di Nusantara, dan masih banyak lagi hal yang lain yang masih tersisa.

 

Dengan demikian Khilafah adalah sebuah sistem Islam yang pernah berjaya dan mendunia,, dan Khilafah pernah menaungi kehidupan selama kurang lebih 13 abad lamanya. Melingkupi 2/3 belahan dunia. Dan selama penerapannya umat Islam berada di tangga kejayaan. Menurut Syaikh al-Islam al-Imam al-Hafizh Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Marwa an-Nawawi, menegakkan Imamah/Khilafah adalah kewajiban. Ia menyatakan: Suatu keharusan bagi umat adanya seorang imam (khalifah) yang menegakkan agama, menolong Sunnah, menegakkan keadilan bagi orang-orang yang terzalimi serta menunaikan berbagai hak dan menempatkan hak-hak tersebut pada tempatnya. Saya menyatakan bahwa menegakkan Imamah (Khilafah) adalah fardhu kifayah (An-Nawawi, Rawdhah ath-Thalibin wa Umdah al-Muftin, 3/433).

 

Jejak di Nusantara menunjukkan kebenaran dari pengaruh khilafah merupakan suatu hal yang positif, yang justru membebaskan manusia dari penjajahan dan meningkatkan taraf berfikir sehingga nantinya banyak sekali ajaran-ajaran Islam yang mendarah daging di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, ini menunjukkan bahwa khilafah dekat hubungannya dengan Nusantara. Jika demikian, bagaimanamungkin NKRI menjadi anti terhadap khilafah yang merupakan sistem terbaik yang pernah mendunia.

Bila kini banyak sekali framing terhadap khilafah, maka seharusnya langkah bijak yang dilakukan adalah kembali menelusuri jejak dan jujur pada kebenaran. Jika khilafah terbukti sebagai sistem terbaik, lantas apa salahnya untuk menerimanya sebagai sistem kehidupan yang akan menerapkan hukum Allah swt sehingga terwujudlah kehidupan yang sejahtera, sebagaimana yang diinginkan oleh setiap manusia.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here