Home Aceh Ta’aruf Bukan Pacaran Berkedok Islami

Ta’aruf Bukan Pacaran Berkedok Islami

Oleh : Meutia Teuku Syahnoordin, S.Kom

(Aktivis Muslimah Peradaban Aceh)

Siapa sih yang gak kenal kata pacaran jaman sekarang ini, anak TK aja udah punya pacar masa kita yang udah dewasa gak? Dan logika manusia pasti mengatakan sebagian orang normal pasti pernah melakukan aktivitas pacaran. Dari pacaran jarak jauh (LDR-an), pacar lima langkah, cinta lokasi, cinta monyet dll.

Mungkin banyak juga yang sudah mencoba untuk berpacaran namun pada akhrinya pacaran hanya menjaga jodoh orang, bertahun-tahun pacaran kaya rasa beli motor kreditan. Dan ada juga yang kemudian pacaran kebablasan duluan…astagfirullah.

Sebab itulah Akhir-akhir ini ta’aruf sepertinya sedang menjadi sebuah trend, dimana para pelakunya sendiri adalah para artis yang baru saja hijrah dan dibelakang para artis ini pastinya ada para fans yang kelak berharap sang pujaan hati akan meliriknya sekali saja, syukur-syukur dijadikan pasangan hidup, lumayan untuk memperbaiki keturunan dan siapa tau bisa jadi cinderela abad milenial.

Namun akan menjadi duka mendalam atau sering disebut “hari patah hati nasional”, jika sang pujaan hati memilih orang lain. Entah sejak kapan hari patah hati itu ada, tiba-tiba saja bagai petir disiang hari…lagu jaman SMP. Menangis darah hingga lupa bahwa hakikatnya cinta itu membutakan mata hati kita. Siapa yang awal mula mempraktekkan taaruf ini? Yang pastinya mereka sudah belajar Islam dan mengetahui bahwasannya dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran islami. benarlah firman Allah yang satu ini :

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32).

Untuk itu pacaran seperti tidak laku lagi akhir-akhir ini, para pemuda ingin mencoba cara baru, dimana bisa menemukan jodoh tanpa perlu proses pacaran yang bisa mendatangkan zina. Namun ta’aruf ini sering sekali menjadi sebuah alasan bagi para ikhwan untuk mem-PHP kan para akhwat yang suka baper duluan. Gimana enggak, para ikhwan ini melancarkan serangan yang membuat para akhwat sering salah pengertian. Karena mereka butuh perhatian juga sekaligus butuh pelampiasan.

Dalam prakteknya para ikhwan ini menjerat korbannya dengan segala macam tipu daya. Awalnya hanya sekedar meminta nasehat, kemudian lanjut saling mengingatkan, meminta motivasi dll yang akhirnya berujung dengan perhatian yang tidak penting. Dan para akhwat yang kekurangan ilmu sering terjebak dengan perasaannya, baik secara tersirat maupun tersurat. Bahkan memang sampai berlanjut pada proses pernikahan.

Yang perlu difahami bahwa ta’aruf (proses pengenalan) dalam Islam itu terkontrol rapi, ada perantaranya bukan langsung berhubungan dengan yang bersangkutan. Mengapa? Untuk saling menjaga diri dari segala fitnah dan perasaan yang belum saatnya. Maka akan bisa terhindarkan dari taaruf yang tidak syari seperti pacaran, chatinga, sms-an, telfonan itu tidak akan terjadi sebelum proses khitbah berlangsung.

Ta’aruf syar’I diperantarai oleh sepasang suami istri dimana nantinya mereka yang akan menemani kedua calon ini hingga menuju pernikahan agar tetap berada dalam koridor yang syari. Dimulai dengan pertukaran biodata keduanya dengan maksud mengetahui bagaimana criteria masing-masing dan kekurangan serta kelebihan pasangan. Tugas dari kedua pasangan suami istri ini adalah mencari tahu tentang calon yang mereka ajukan sehingga tidak asal memberikan jodoh dalam artian kebelet nikah karena factor umur dan lelah ditanyai terus.

Maka Rasulullah sendiri sudah menjelaskan realita yang terjadi bagaiman seseorang memilih calon pasangan hidupnya seraya menunjukkan bagaimana yang seharusnya. Rasulullah saw bersabda :

“Seorang wanita dinikahi karena empat hal : karena hartanya, karena keturunannya (nasabnya), karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka utamakanlah (karena) agamanya. Hal itu akan menghalangi tanganmu” (Abu hurairah)

Maknanya adalah bahwa yang disukai dan mendorong para lelaki untuk tertarik dan menikahi seorang perempuan adalah karena empat hal itu. Yang menjadi urutan terakhir biasanya malah criteria kebaikan agamanya. Maka Nabi memerintahkan kepada para lelaki bahwa jika mereka mendapati adanya kebaikan agama maka jangan berpaling dariya. Jika tidak, maka lelaki itu akan ditimpa kebangkrutan dan kemiskinan. (Fiqh Al-Islam wa adillatuhu, Dr. Wahbah A-Zuhailiy)

Kemudaan Rasulullah saw. Melarang seseorang menikahi seorang perempuan karena selain agama. Dan beliau memperingatkan implikasi mengutamakan kriteria harta dan kecantikan berliau bersabda :

“Janganlah kalian menikahi seorang perempuan karena kecantikannya, boleh jadi kecantikan itu akan merusak mereka. Dan jangan pula karena hartanya, boleh jadi harta mereka akan menjadikan mereka membangkang (congkak). Nikahilah mereka karena agama. Dan sungguh seorang budak perempuan hitam legam lebih baik agamanya adalah lebih afhal (lebih utama dinikahi)” (HR. Al-Bazzar, Ibnu Majah dan Al-Baihaqiy)

Namun yang mungkin tidak banyak diketahui oleh masyarakat adalah proses ta’aruf itu harus didahului oleh khitbah. Mengkhitbah adalah meminang atau melamar seorang perempuan yang boleh dinikahi secara syar’I yang dilakukan oleh seorang laki-laki baik secara langsung maupun tidak, baik dengan datang sendiri maupun melalui wakil atau perantaranya. (Risalah khitabah hal : 171)

Setelah mengkhitbah baru kemudian adanya proses ta’aruf pasca khitbah, intinya mengenal lebih dekat lagi akhlak, karekter dan kepribadian masing-masing, maka tidak perlu ditakutkan hal-hal seperti di PHP dan segalanya.

Khitbah adalah akad berupa janji untuk menikah ini adalah konsekuensinya, maka keduanya harus menjaganya. Pada saat proses ini tetap tidak dibenarkan keduanya melakukan komunikasi yang tidak penting seperti bercanda dan merayu atau jalan berdua, namun di bolehkan berdiskusi mengenai pernikahan dan saling memberi hadiah.

Pernikahan tanpa iman dan takwa akan menghancurkan diri kita, begitu pula menyatukan visi dan misi pernikahan yang mungkin juga luput dari beberapa orang. Tujuan dan orientasi hidup (dalam menjalankan seluruh aktivitasnya) yang dimaksud adalah visi misi kehidupan. Visi terkait bagaimana seseorang memandang kehidupan. Sedangkan misi adalah tujuan akhir yang diinginkan.

Karena itu jika kemudian kita condong kepada public figure itu salah, mereka juga manusia yang bisa melakukan kesalahan apatah lagi mereka juga sedang dalam proses hijrahnya. Maka harusnya yang menjadi pedoman kita adalah Islam itu sendiri, dan pernikahan dalam Islam yang ingin kita wujudkan melalui proses syari harus lah dituntun. Bukan seperti saat ini mengenalkan dan melepaskan, membiarkan mereka melakukan interaksi secara mandiri tanpa pengontrolan, akhirnya yang terjadi adalah kekecewaan. Karena pada prosesnya saja sudah salah diawalnya.

Kesempurnaan syariat Islam akan menjadi sebuah control dalam kehidupan kita. Dimana ketika kita ingin serius untuk membangun sebuah rumah tangga maka bebet, bibit dan bobotnya harus jelas. Dalam artian lainnya mantap iman dan takwanya, jadi menikah bukan suatu ajang perlombaan dan bukan pula ajang pamer. Untuk itu tetap harus menjaga niat kita menikah karena ingin menundukkan pandangan dan melestarikan keturunan.

 

Wallahu ‘alam

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here