Home Fokus Nasional Rumah Bukan Tempat Pulang

Rumah Bukan Tempat Pulang

Oleh : Rafika Salima

Nim : 170305029

Mk : Pratikum Kuliah Lapangan (Artikel opini )

Setiap anak mengidam-idamkan keluarga yang lengkap dan utuh, yang Bahagia pastinya, tetapi tidak semua keluarga seperti itu, di jaman sekarang kasus perceraian semakin hari semakin marak terjadi, dengan berbagai persoalan, mulai dari perekonomian, hingga hadirnya orang ketiga.

Kebanyakan orang tua ketika bercerai tidak pernah memikirkan nasib buah hati mereka, tidak pernah memikirkan kondisi psikis anak-anak nya, mereka sibuk dengan keegoisan masing-masing dan berujung dengan perceraian, sedangkan si anak melihat kondisi orang tua nya yang tidak utuh lagi, yang jauh dari kata harmonis mungkin memiliki trauma yang berkepanjangan.

“Broken Home” sebuah istilah di jaman sekarang yang di tunjukan untuk anak-anak yang orang tua nya telah bercerai. Anak-anak broken home sering kali di pandang sebelah mata, banyak orang yang memandang anak broken home sebagai anak yang nakal, anak yang tidak tau etika dan istilah-istilah negative lainnya.

Anak broken home juga sering kali di nilai anak yang tidak punya masa depan di karnakan tidak mendapat perhatian yang utuh dari kedua orang tua mereka, namun jauh dari sudut pandang yang sering kali di nilai orang, sebetulnya tidak semua anak broken home nakal, dan tidak punya masa depan, tidak semua anak broken home tidak mempunyai etika dan akhlak, seperti yang kita tau, beda orang beda cara pikir, begitu juga dengan anak broken home, mereka tidak memiliki pemikiran yang sama, namun memiliki trauma yang sama.

Setelah orang tua bercerai tidak sedikit anak yang berpikir untuk mengakhiri hidup mereka, dan juga tidak sedikit anak yang berubah terhadap sikap mereka di karnakan perceraian orang tua, begitu juga dengan trauma yang mereka alami, banyak anak memiliki trauma yang berkepanjangan, seperti trauma untuk membangun rumah tangga bersama pasangan mereka, hal ini di akibatkan karena orang tua mereka sebelumnya telah gagal membangun rumah tangga yang harmonis seperti kebanyakan orang tua teman-teman mereka yang memiliki keluarga yang utuh.

Rasa cemburu sering kali muncul ketika mereka melihat teman-teman mereka mempunyai keluarga yang utuh, mungkin kebanyakan anak sangat menyukai dengan libur sekolah karena bisa pulang kerumah dan berkumpul bersama orang-orang tersayang dan mempunyai jadwal liburan nya masing-masing, namun lain hal nya dengan anak broken home, mereka sangat membenci liburan karena mereka akan merasa kesepian dengan suasanan rumah yang akan mereka tempati selama 24 jam.

Jika menurut anak-anak lain rumah lah tempat ternyaman untuk beristirahat namun kebalikan nya dengan anak broken home, bagi mereka rumah bukan lah tempat ternyaman, melainkan rumah adalah tempat yang sering kali membuat hati nya patah.

Kebanyakan orang melihat anak broken home sama seperti anak-anak pada umum nya, yang memilliki teman, dan jika di lihat keseharian sang anak seperti tidak memiliki masalah apa-apa, namun siapa yang tau perasaan sang anak yang di keseharian nya mempunyai trauma yang mendalam yang di ciptakan oleh orang tua mereka sendiri, tidak ada yang mengerti mereka selain diri mereka sendiri yang dapat mengobati trauma nya pun bukan orang lain, melainkan diri mereka sendiri.

Dan hebat nya anak broken home mereka mampu menutupi kesedihan dengan senyuman mereka, sehingga tidak ada yang tau seberapa kacau nya hati dan pikiran mereka.

Sangat banyak dampak negative bagi-anak-anak broken home tidak hanya mengalami trauma yang mendalam namun juga berdampak bagi masalah sosial masyarakat yang sering kali memandang anak-anak broken home sebagai anak yang kurang mendapat kasih sayang dari keluarga terutama kedua orang tua yang seharusnya menjadi madrasah pertama bagi mereka, dan banyak dari anak broken home memilih untuk jauh dari kedua orang tua mereka.

“kamu pilih tinggal sama mama atau sama ayah” kalimat itulah yang tidak di inginkan oleh setiap anak, tapi apa boleh buat keegoisan orang tua mengalahkan semua nya, orang tua sering kali berpikir perceraian adalah jalan terbaik untuk rumah tangga mereka, padahal kenyataan nya banyak pihak yang di rugikan dari keputusan mereka buat, terutama anak.

Tidak sampai di permasalahan perceraian orang tua saja, setelah orang tua resmi bercerai, masing-masing mereka pasti ingin melanjutkan hidup dengan pasangan-pasangan yang baru, hidup baru orang tua justru bagi anak adalah permasalahan baru bagi mereka, istilah ibu tiri dan ayah tiri yang sering kali menghantui pikiran anak-anak broken home, hatinya tidak hanya sekali patah karna perceraian orang tua namun untuk kesekian kalinya patah karna kehidupan baru orang tua, tidak semua ibu tiri baik dan cocok untuk anak-anak ini, namun justru sebaliknya, ada yang berkali-kali perbuatan nya yang justru tidak pernah di rasakan bersama orang tua.

Namun dengan hidup yang baru mereka merasakan hal-hal yang tidak di inginkan, siapa yang menyangka mereka akan mengalami hal pahit, yang mungkin sangat pahit, jika ada pilihan mati atau hidup, mungkin mereka akan memilih mati, tetapi mengakhiri hidup bukan lah jalan satu-satu nya untuk menyelesaikan masalah.

Namun sebutan broken home bukan lah sebuah alasan yang bisa menghalang mereka untuk menggapai cita-cita mereka, justru banyak anak yang menjadikan masalah ini sebagai motivasi untuk menggapai masa depan yang cerah. Banyak pelajaran yang bisa di ambil dari kejadian-kejadian dan masalah ini.

Beruntunglah bagi anak-anak yang terlahir dari keluarga yang lengkap dan harmonis, setiap orang memiliki masalah masing-masing dan semuanya kembali pada diri sendiri, bagaimana cara menghadapi nya, dan mengatasi nya. Dan berserah diri kepada sang pencipta, karna sesungguhnya Dia lah sang pembolak balik hati manusia.

​Sebenarnya setiap masalah ada jalan keluarnya, namun hal-hal sepele pun bisa di perbesaar sehingga akan menimbulkan permasalahan yang tidak di inginkan,yang banyak merugikan banyak pihak, terutama anak.

Seringkali orang tua yang telah bercerai untuk kesekian kali nya egois di saat anak sering sekali di sebut tidak adil dalam membagi waktu untuk ayah dan untuk ibu, di satu sisi anak menyayangi kedua-dua nya namun di sisi lain anak bingung dalam membagi waktu.

​Rumah boleh hancur, hati boleh patah, orang tua boleh berpisah, tapi tubuh harus tetap kuat dan tabah, agar ketika merasa lelah kita tak kenal kata menyerah, kita hebat, kita kuat, buktinya kita mampu berdiri sampai saat ini, dan ingat lah tuhan tidak akan memberi hambanya cobaan di luar kemampuan hamba itu sendiri, sayangi ibu dan ayah selagi ada, walaupun keluarga tak utuh lagi, bukan alasan buat mu untuk tidak menyayangi mereka, dan percayalah jika masalah mu sebesar kapal maka allah telah menyiapkan kebahagiaan seluas lautan untuk mu.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here