Home Aceh Rohingya Terdampar Dilaut Demokrasi

Rohingya Terdampar Dilaut Demokrasi

389
0

Oleh: Encu Inqilabi

(Aktivis Muslimah Gayo)

 

Begitu pilu menyaksikan Rohingya kembali terombang-ambing di tengah lautan, alangkah dramatis kehidupan Rohingnya ini, mereka bertahan di tengah laut tanpa suplai makanan berhari hari, mereka terdiri dari anak-anak, dewasa juga orang tua.

Awalnya tujuan mereka adalah ke negeri sebelah (Malaysia) namun disayangkan, pemerintah Malaysia tak lagi mau menerima Muslim Rohingya sebab menurunnya perekonomian Malaysia karena pandemi Covid-19, Rohingya memutuskan untuk kembali namun sayang, kapal yang mereka tumpangi mengalami kerusakan.

Akhirnya Muslim Rohingya berlabuh ke Aceh, dari Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya (PIARA) melaporkan kondisi terkini pengungsi Rohingya yang diselamatkan masyarakat Desa Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara, Kamis (25/06/2020) lalu.

Berdasarkan data lembaga itu, jumlah pengungsi Rohingya asal Myanmar yang mengungsi di Eks Gedung Imigrasi, Puenthet, Aceh Utara secara keseluruhan mencapai 99 jiwa yang diantaranya 17 orang pria, 49 orang perempuan, 10 anak laki-laki dan 22 anak perempuan serta seorang bayi perempuan.

“Menurut penuturan beberapa pengungsi etnis Rohingya , mereka berangkat dari Bangladesh pada akhir bulan Februari dan sebagian pada awal bulan Maret,” kata Nikmah Kurnia Sari, relawan PIARA yang juga Direktur Pos Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM) Aceh Tengah dan Bener Meriah melalui pesan singkatnya kepada Kompas.com, Minggu (28/06/2020).

Sedihnya, dalam satu kapal yang ditumpangi oleh mereka, jumlah warga yang selamat mencapai 99 orang, sementara 15 orang meninggal di kapal dan jenazah yang meninggal dibuang kedalam laut. (regional.kompas.com/ /2020/06/29)

Rohingya bukan hanya terdampar dalam lautan, namun juga didaratan dalam kubangan demokrasi kapitalisme. Pedihnya keadaan Muslim Rohingya yang kita saksikan saat ini disebabkan oleh sistem yang bertentangan dengan fitrah manusia, yakni demokrasi kapitalis yang serba bebas dalam bertingkah laku, berekonomi, bersosial, berbudaya, bergaul bahkan bebas sampai dalam pengaturan tingkat negara.

Rohingya bagian dari warga negara Myanmar yang tidak diakui, dimana negara ini pernah merebut tanah Islam yang kaya yakni Rakhine State berkoalisi dengan kekuatan kelompok Budha radikal dan dukungan jutaan militer di dalam negeri, lalu berkomplot dengan China di luar negeri, juga berselingkuh dengan korporasi Kapitalis untuk sumberdaya alamnya.

Ya Myanmar dan seluruh konfigurasi kekuatan di belakangnya adalah negara penjajah yang harus dihadapi oleh kekuatan negara.

Hari ini pemikiran politik Islam memang teramat jauh (baca: sengaja dijauhkan bahkan dimonsterisasi) dari umat dan panggung dunia. Karena itulah umat selalu berada di bawah, diinjak-injak, dan selalu menjadi korban dari pertarungan Geopolitik, bahkan korban dari konstitusi negara (seperti kasus Rohingya).

Persis seperti gambaran hadits nabi : Rasulullah SAW bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?”

Beliau SAW bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.”

Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud)

Ya, saat ini Muslim Rohingya seperti hidangan yang disantap oleh kekuatan jahat berlapis. Ya, mereka terdampar dalam kejahatan berlapis. Karena Muslim Rohingya harus berhadapan dengan kejahatan konstitusi negara kafir Myanmar, dan kejahatan China, Barat, termasuk kejahatan korporasi kapitalis, dunai menyaksiakan kondisi Rohingya yang terus-terusan terdampar, tak ada kedamaian dan kenyamanan bagi mereka.

Padahal dalam pandangan negara Islam, tugas konstitusional negara adalah menjaga darah, harta, kehormatan warga negaranya, serta mempertahankan tanah Islam. Jadi, masalah nyawa juga kehormatan Muslim Rohingya adalah jelas masalah Islam.

Kemana lagi Rohingya hendak berlabuh?

Adalah mimpi mendapatkan kenyamanan dan kedamaian dalam negara Kapitalis yang hanya melirik manfaat atau keuntungan semata. Dari dulunya kita melihat berton-ton makanan telah dikirim oleh banyak pihak untuk pengungsi Rohingya, Sejumlah lembaga kemanusiaan dari berbagai negara juga dari PBB juga terlibat di sana.

Apa yang dilakukan dunia dan sebagian pemimpin dunia Islam memang membantu meringankan penderitaan Muslim Rohingya, namun tak menyelesaikan persoalan yang terjadi. Warga yang selamat tinggal di pengungsian namun tak bisa hidup seterusnya di sana.

Hidup tak layak di kamp-kamp pengungsian dan sewaktu-waktu rawan diusir oleh negara yang menampung mereka. Dan bila dipulangkan ke daerah asal mereka di Myanmar, kemungkinan besar akan mengalami kekerasan (lagi).

Sikap dunia Islam yang ambigu, dan betah bermain retorika atau hanya dengan bantuan logistik akhirnya memperpanjang derita umat Islam di berbagai belahan dunia. Muslim Rohingya bernasib sama seperti muslim Kashmir, Uighur, Palestina, atau Suriah. Menanggung penderitaan menahun.

Karenanya tak bisa disangkal lagi umat membutuhkan kekuatan riil di atas diplomasi politik. Mesti ada intervensi militer untuk menyelamatkan kaum muslimin yang ditindas. Umat membutuhkan institusi politik yang independen, tak terpengaruh tekanan asing dan aturan internasional yang mengebiri kekuatan umat.

Umat tak bisa bergantung pada PBB bahkan OKI sekalipun. Kalo bukan PBB dan OKI tempat perlabuhan Rohingya, maka hanya ada satu lagi pelabuhan yang tepat untuk Rohingya bahkan seluruh kaum Muslimin di dunia, adalah Khilafah ,sebagai sistem yang akan menerapkan hukum-hukum Allah di muka bumi.

Membawa kedamaian, kesejukkan, ketentraman bagi siapa saja yang tinggal didalamnya. Dijamin sistem ini akan membawa umat dari keterdamparannya yang gelap menuju cahaya. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here