Home Fokus Nasional Rohingya Masih Berduka, Pertanda Perisai Umat Tiada

Rohingya Masih Berduka, Pertanda Perisai Umat Tiada

714

Oleh: Jumratul Sakdiah

Derita Rohingya tak kunjung reda. Di tengah pandemi Corona, luka mereka kian bertambah. Pasalnya saat persoalan kemanusiaan menimpanya, mereka mencari perlindungan ke negeri tetangga dan saudara sesama muslim.

Negeri “Jiran”, yang mayoritas warganya Muslim, menjadi destinasi favorit etnis yang mengungsi dari persekusi di Myanmar. (kompas.com, 21/06/2020). Namun apa yang terjadi? Nasib mereka sangat menyedihkan. Berita terbaru dikabarkan bahwa Malaysia berencana memulangkan pengungsi Rohingya yang sempat bertahan disana dengan dalih kontrol ketat guna mencegah virus corona. (kompas.com, 21/06/2020)

Di Bangladesh, orang-orang Rohingya dijejalkan ke kamp-kamp pengungsi yang berdesakan di ruang seluas 6.000 hektar. “Kondisi itu sangat tidak efisien, itu bukan kehidupan yang kita semua ingin lihat di negara itu,” papar Hammadi. Kondisi mereka kini bahkan memprihatinkan, tempat yang tak layak sangat mendukung kerentanan pada virus corona. (kompas.com, 16/05/2020)

Akhirnya, Rohingya terdampar tak berarah. Tak dapat secercah harapan pertolongan dari saudara mereka seiman. Dikarenakan tak adanya persatuan umat Islam di seluruh dunia. Seolah Rohingnya bukan dari saudaranya hanya karena dipisahkan oleh sekat negara.

Memecah belah kaum muslimin adalah upaya barat dalam melumpuhkan kekuatan Umat Islam. Hari ini, umat Islam tidak seperti satu tubuh, mereka saling terpisah karena sekat nasionalisme. Paham yang telah lama digaungkan sejak keruntuhan Islam di Utsmani sampai sekarang ini.

Terpisah dengan jarak tak mengapa, asalkan berada dalam tatanan masyarakat Islam. Namun pasalnya persatuan pemikiran, perasaan dan aturan yang ketiganya dilandasi oleh Islam. Ini sama sekali tak ada penerapannya sekarang. Sekalipun di negeri mayoritas Islam.

Umat Islam bagai buih di lautan. Mereka terombang-ambing tak jelas arah. Bahkan saat berada dalam derita, tak ada yang mau mendengar jeritan mereka. Dunia diam seribu bahasa. Seolah bukan manusia yang kehilangan nyawa.

Terhitung ada jutaan umat Islam yang tumpah darahnya menghadapi ketidakadilan di negerinya. Tapi apalah daya. Saudaranya dibelahan dunia yang lain tak bisa melakukan apa-apa kecuali sedikit doa dan uluran tangan. Dan tentunya ini bukan solusi tuntas untuk menyelesaikan akar masalah umat Islam di seluruh dunia.

Karena sungguh, akar persoalan umat Islam adalah ketiadaan junnah atau perisai yang menjamin keamanan dan perlindungan umat Islam di seluruh semesta. Junnah itu bernama khilafah. “Ibu” yang kita nantikan kehadirannya.

Hilangnya pelindung umat Islam di seluruh dunia. Telah meninggalkan luka yang amat dalam. Kendati demikian, perasaan iba sesama saudara kaum muslimin masih ada jiwa-jiwa pemeluknya. Seperti yang dilakukan warga Aceh terhadap puluhan warga Rohingnya yang terdampar di laut Aceh Utara, “Mungkin karena latar belakang mereka yang terdampar beragama Islam, mungkin secara psikologis merasa persaudaraan, juga ada rasa kemanusiaan.

Sehingga mereka minta para pengungsi diturunkan ke desa,” tutur Panglima Laot Aceh Utara, Hamdani Yacob, kepada Saiful Juned, wartawan di lokasi yang melaporkan untuk BBC News Indonesia. (bbc.com, 25/06/2020). Namun apalah daya jika tak ada kekuasaan untuk menolong sesama dengan perlindungan dan keselamatan dari kejahatan musuh-musuh Islam. Maka tetap saja luka mereka tak akan pernah reda.

Persatuan umat hari ini tiada. Masalah terus bermunculan di semesta. Namun, solusi nyata tampaknya tidak ada. Penderitaan dunia terus bertambah setiap harinya.

Maka, sudah saatnya semesta bermuhasabah. Ada yang salah dari tata kelola dunia. Tersebab manusia alpa akan penciptanya. Allah subhanahu wa ta ih’ala telah menurunkan aturan paripurna dalam mengatur negara. Dialah khilafah, perisai umat yang hilang. Janji Allah yang telah lama ditunggu realisasinya dan terus diperjuangkan oleh orang-orang yang telah menginfakkan semua yang dia miliki untuk Allah dan RasulNya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here