Home Aceh PERAN PEREMPUAN DI TENGAH PANDEMI

PERAN PEREMPUAN DI TENGAH PANDEMI

772

Oleh : Maulidar

Covid-19 membuat masyarakat Indonesia panik hingga di seluruh dunia. Semua masyarakat di tuntut untuk tetap tegar, sabar, dan waspada terhadap wabah ini. Hingga saat ini Covid-19 masih mewabah di Indonesia dengan ditunjukkannya jumlah pasien yang semakin meningkat.

Inilah tantangan besar bagi perempuan untuk tetap tangguh di tengah pandemi Covid-19, serta sejak diberlakukan physical distancing hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dituntut memberikan ketahanan keluarga yang kuat.

Menyambut hari Kartini, peran perempuan sangat dibutuhkan pada saat wabah ini. Layaknya teladan R. A Kartini yang memiliki sikap berani, optimistis, mandiri, dan tekad yang bulat diharapkan dapat diterapkan oleh perempuan Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Dampak dari pandemi wabah corona ini sangat dirasakan dalam keluarga, baik itu psikologis orang tua maupun anak. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang di tetapkan oleh pemerintah memaksa seluruh masyarakat untuk menghabiskan waktu di rumah saja.

Pada saat bulan suci Ramadhan ini sangat terasa perbedaannya dengan bulan Ramadhan sebelumnya, dimana kegiatan yang sebelumnya dilakukan di luar rumah sekarang mereka terpaksa melakukan di rumah saja. Sehingga pada saat momen seperti ini peran perempuan makin dibutuhkan.

Awalnya memang dirasa begitu berat dengan tetap menjalankan segala peran dalam satu waktu dan ruang yang sama. Terutama ibu yang juga harus WFH (Work From Home), tetap bisa menjalankan segala  peran dalam keluarga. Namun pada akhirnya bisa membuat hal yang menyenangkan jika berpikiran positif.

Kemudian wabah corona tidak selalu di pandang negatif tetapi juga mempunyai sisi positif, dimana keluarga mempunyai kesempatan untuk berkumpul mengisi waktu luang bersama keluarga di rumah yang mungkin biasanya memiliki kesibukan masing-masing di luar. Selain itu perempuan juga bisa memberikan edukasi kepada anggota keluarganya yang berupa sikap psikis menghadapi pandemic Covid-19 ini.

Edukasi tersebut berupa paparan yang sudah di ulas pada media televisi sehingga bisa mengurangi paranoid yang dirasakan pada anggota keluarga dan mengurangi tekanan psikologis.

Tidak hanya itu saja perempuan bisa memanfaatkan kedekatan bersama anggota keluarga dengan berbagai aktivitas yang produktif. Kemudian ibu juga bisa berinteraksi dengan anak-anak serta mengadakan diskusi bersama terkait dengan wabah Covid-19.

Selain itu, ibu yang sibuk/berkarir bisa lebih banyak mendampingi anak-anak belajar di rumah meskipun WFH (Work From Home). Perempuan juga bisa menjalankan perannya di tengah pandemi sebagai seorang ibu yang menyiapkan kebutuhan keluarganya seperti makanan dan minuman sehat yang bisa menjaga stamina untuk pencegahan penularan Covid-19.

Perempuan juga dapat memenuhi kebutuhan psikis dengan cara melakukan sosialisasi tentang kewaspadaan terhadap Covid-19 agar keluarga tidak cemas berlebihan. Setelah memberikan edukasi, perempuan bisa melakukan sosialisasi di rumah melalui media sosial berdasarkan dari sumber yang akurat.

Sosok perempuan dalam keluarga memiliki peranan yang sangat penting, dimana perempuan masa kini memainkan banyak peranan dalam keluarga, mereka harus mendapingi anak belajar, memastikan anggota keluarga tetap sehat dan terjaga asupan gizinya, serta perlu menciptakan kegiatan bermain agar anak-anak tidak merasa bosan selama berdiam diri di rumah.

Di tengah situasi pandemi Covid-19 ini peran perempuan sangat dibutuhkan dimana perempuan tersebut harus tangguh guna menghadapi perubahan perilaku dalam kebiasaan yang ada di dalam keluarga melalui pendidikan (edukasi). Pendidikan yang diberikan tidak hanya intelektualitas, namun juga memberikan pendidikan agama, fisik, psikologis, dan sosial

Perubahan perilaku ini dapat diawali dari penerapan Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) dalam keluarga. Menurut Permenkes No. 74 Tahun 2015, ada tiga strategi yang dapat dilakukan dalam  Germas.

Strategi pertama, pemberdayaan masyarakat, dilakukan dalam rangka menciptakan kesadaran, kemauan, serta kemampuan individu, keluarga, dan kelompok masyarakat.

Strategi kedua, advokasi, dilakukan dalam rangka mendapatkan dukungan dalam bentuk kebijakan dan sumberdaya yang diperlukan. Strategi ketiga, kemitraan, dilakukan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat dan advokasi dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesehatan.

Aplikasi ini diterapkan Germas pada keluarga yaitu aktivitas fisik 30 menit setiap hari dengan berolah raga, makan buah-buahan dan sayuran setiap hari, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer (jika kondisi darurat), membersihkan lingkungan sekitar, dan sebagainya.

Tanpa kita sadari peran perempuan dan ketangguhannya sangatlah komplek terutama di masa-masa pandemi Covid-19. Mereka begitu hebat dengan memiliki manajemen waktu yang bisa mengubah perilaku dan kebiasaan dalam keluarga. Seringkali dalam waktu yang bersamaan harus mampu menyelesaikan pekerjaan dalam urusan rumah maupun urusan lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here