Home Aceh Penampakan Marginal Di Era Revolusi Industri 4.0

Penampakan Marginal Di Era Revolusi Industri 4.0

351

Oleh ; Nama: Nurul Maulida

Prodi: sosiologi agama

Fak:ushuluddin & filsafat

 

seperti yang kita ketahui bahwa Aceh merilis penduduk peringkat pertama termiskin di sumatera dan posisi ke enam seluruh indonesia. “Turun angka kemiskinan diaceh karena sejumlah program pemerintah seperti bantuan sosial beras sejahtera (Rasta)”. Ungkap kepala BPS aceh, wahyudin MM.

 

Dari Data Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk miskin diaceh pada maret 2019 mencapai 819 ribu jiwa atau 15,32 %. Terjadi penurunan sebanyak 12 ribu jiwa dibandingakan data bulan september 2018 lalu dengan jumlah 831 ribu atau 15,68%. Persenan ini merupakan penurunan angka kemiskinan ke 5 tertinggi diindonesia.

 

Kemiskinan tidak bisa terlepas dari kebodohan dan ketertinggalan, demikian kebodohan sangat erat hubungannya dengan kemiskinan dan ketertingalan dalam ekonomi dan kemakmuran. Meski kenyataanya ada anak keluarga miskin berotak cemerlang. Namun karena biaya sekolah yang lebih mahal dan modern tak sedikit anak-anak dari keluarga miskin yang menguburkan niatnya untuk sekolah.

 

Berbicara tetang modern, tentunya tak terlepas dari industri 4.0 yang merupakan kerangka keras dimana industri modern, bisnis dan sektor jasa dirancang dengan tujuan mensejahterakan masyarakat.

 

Perkembangan teknologi industri 4.0 ini menawarkan peningkatan penciptaan nilai dan memanfaatkan produktivitas dalam hal pengelolaan sumber daya yang lebih baik.

Terlepas dari semua, revolusi industri 4.0 mempunyai efek negatif untuk perkembangan dizaman modern, dimana teknologi ini menyebabkan ketimpangan dan ketidaksetaraan. Terutama dalam masalah sosial ekonomi, banyak orang kaya yang semakin kaya sementara orang miskin tetap berada dalam kemiskinan mereka. Mengapa? Karena masih banyak dari masyarakat indonesia yang masih gagap teknologi. Artinya masih banyak masyarakat indonesia yang tidak mengerti perkembangan teknologi.

Masyarakat miskin yang paham teknologi bukankah hal berlebihan. Dimana orang miskin yang ada dikepala mereka hanyalah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan. Ada sebahagian menolak membeli barang mahal dan memilih membeli beras karena begitu tidak berharganya semua itu kepada orang miskin.

 

Aceh yang rata-rata bekerja sebagai petani dan buruh. Ketika saat musim penanaman padi, para buruh memanfaatkan kesempatan untuk bekerja disawah orang yang digaji. Dari pekerjaan buruh disawah mereka mendapatkan uang lebih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ditambah lama bekerja karena banyaknya proses tahapan yang dilakukan dari menanam sampai panen sehingga menambah pendapatan upah yang lama pula.

 

Namun diera revolusi ini, ternyata berdampak sangat buruk kepada buruh tani. Peralihan pekerjaan yang dialihkan kepada mesin membuat mereka tidak dipakai lagi. Adanya mesin pemotong padi, mesin perontok padi dan kontraktor yang mengakibatkan kurangnya yang memperkerjakan mereka. Dari hal ini, yang terjadi pada buruh yaitu mereka harus bekerja ditempat lain dan tak banyak juga yang mengangur akibat tidak adanya pekerjaan lain.

 

Aceh bukan hanya menjadi salah satu provinsi termiskin disumatera namun aceh juga mempunyai kemiskinan akan teknologi. Ditambah era zaman now yang mana aceh sangat tertinggal. Dibalik itu, Aceh juga mempunyai banyak kekayaan alam yang bisa diolah, akan tetapi karena kegagalan masyarakat semuanya hanya sia-sia.

 

Dalam hal ini, Seharusnya pemerintah membantu memecahkan permasalahan kemiskinan diaceh khususnya. Dimana kebodohan hanya ada pada orang yang tidak mau berusaha. Dari pemerintah itu sendiri, harus mengerakkan sektor pekerjaan, membuka lapangan pekerjaan, membimbing masyarakat dalam hal memberdayakan SDM secara kreatif sehingga pembelanjaan daerah bisa diatur oleh daerah itu sendiri. Dengan begitu, angka kemiskinan diaceh menurun dan teratasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here