Home Aceh Peduli Sampah Dimasa Pandemi

Peduli Sampah Dimasa Pandemi

393

Oleh ; Nazrina Julika Sari

Manusia, binatang, tumbuhan dan habitatnya adalah sebuah ekosistem yang saling berkaitan. Habitat atau biasa disebut dengan lingkungan adalah satu aspek terpenting untuk keterlangsungan ekosistem. Manusia dan lingkungan tentunya tidak dapat dipisahkan. Bercerita tentang lingkungan dan masalah masalahnya sudah seharusnya penting untuk dibahas.

Lingkungan yang tidak dirawat tentu memiliki dampak terhadap manusia, mulai dari ketidaknyamanan, penyakit, ketidakseimbangan ekosistem atau bahkan kepunahan sebuah populasi hidup.

Pada dasarnya kebersihan itu adalah sebagian dari iman, pasa saat duduk di bangku sekolah dasar kita diminta menghapal annadhodafatu minal iman bahwa kebersihan itu sebagian dari iman. Jadi pangkalan iman itu diawali dari kebersihan baik itu kebersihan badan, kebersihan lingkungan, dan kebersihan hati, Konsep ini harusnya sudah melekat sejak dini.

Cendikiawan Yusuf Al Qardawi dalam bukunya berjudul Islam Agama Ramah Lingkungan sama dengan menjga jiwa. Menurut dia, ini tak diragukan lagi. Sebab, rusaknya lingkungan, pencemaran, dan pelecehan terhadap keseimbangan akan membahayakan kehidupan manusia. Ia juga mengatakan, menjaga lingkungan sama dengan menjaga keturunan, yang berarti keturunan manusia di muka bumi.

Kerusakan yang dibuat sekarang akan diwariskan kepada generasi mendatang, merekalah yang kelak menanggung akibat dari kerusakan tersebut. Di antaranya membuang sampah pada tempatnya, tidak membuang sampah di bantaran kali, jalan tempat berlalunya orang, pekarangan, dll. merawat dan menjaga kebersihan lingkungan berarati sama halnya menciptakan alam sekitar yang sehat, indah, bebas dari kotoran, sampah dan bau yang tak sedap.

Lingkungan yang bersih tentu akan memberikan segudang manfaat bagi kesehatan dan menjauhkan diri dari berbagai penyakit. Sekaligus juga menjadi cerminan dari masyarakat itu sendiri. Namun, nyatanya cukup sulit untuk menciptakan lingkungan yang bersih, karena minimnya kesadaran dan kepedulian dari masyatrakat terhadap lingkungan sekitar.

Di negara kita sendiri, isu kebersihan lingkungan sudah menjadi perkara terutama soal pencemaran sampah, baik di daratan maupun peraiaran. Dimasa pandemi covid-19 ini sangat mengkhawatirkan, seluruh kegiatan diliburkan/dihentikan.

Namun dibalik itu manusia kini juga menyadari bahwa tempat hunian mereka mulai tidak bersahabat banyak sekali bencana dan wabah yang muncul akibat alam sudah mulai kehilangan keseimbangannya.

Bencana itu tidak muncul dengan sendirinya, namun ada peran manusia yang cenderung tidak menjaga alam yaitu membuang sampah sembarangan, menyumbangkan sampah plastik yang akhirnya menimbulkan maraknya peristiwa bencana alam, pencemaran laut, kurangnya lahan hijau, hingga penyebaran virus penyakit sebagai dampak yang nyata.

Pencemaran lingkungan umumnya terjadi saat lingkungan hidup manusia, baik yang bersifat fisik , biologis, maupun sosial yang memiliki unsur merugikan keberadaan manusia. Pencemaran dibedakan menjadi tiga yaitu: pencemaran udara, pencemaran air, dan pencemaran tanah.

Perairan bisa tercemar karena ulah manusia dengan perbuatan mereka seperti membuang sampah ke sungai, ulah pabrik-pabrik yang membuang limbah industri ke sungai atau laut. Pencemaran akan mengakibatkan ikan dan makhluk lainnya yang hidup di air akan mati dan beracun, sehingga tidak aman di konsumsi manusia.

Pencemaran udara sendiri disebabkan oleh asap kendaraan bermotor dan asap pabrik. Tingginya tingkat polusi membuat udara tercemar terutama dikota membuat pemerintah berbagai macam cara untuk mengatasi pencemaran udara.

Hal ini bisa dilihat dari banyaknya taman kota serta program menanam pohon yang sering dilakukan dengan bekerjasama dengan pihak swasta. Salah satu masalah sosial lain terkait lingkungan adalah sampah.

Masalah sampah ini sangat menggangu terutama jika tidak dikelola dengan baik. Bagi masyarakat pedesaan sampah mungkin belum menjadi masalah yang serius. Namun, tidak demikian dikota atau penduduk yang padat menghasilkan banyak sekali sampah.

Akibat banyaknya proses produksi dan konsumsi di kota. Sebaiknya kita harus pintar dalam memilah sampah organik dan non organik. Pemilahan sampah non-organik, kita pisahkan berdasarkan jenis limbah berupa: kertas, plastik, botol, dll. Sampah non-organik ini dikumpulkan ke bank sampah.

Sedangkan sampah organik diolah dan bisa dimanfaatkan kembali untuk pupuk, dll. Kita juga dapat membuat lubang biopori minimal lima lubang di lingkungan rumah. Lubang biopori digunakan membuang sisa-sisa makanan, sehingga tanah dilingkungan rumah menjadi subur.

Langkah lainnya yaitu meniadakan dan membatasi sampah plastik, tentunya melalui penyadaran seluruh masyarakat. Semuanya memiliki peran apalagi sebuah negara yang ingin negaranya baik tentulah berusaha dalam mengurangi plastik dan mengajak teman-teman dan saudara-saudara menggerakkan minim sampah yaitu salah satu cara dengan kampaye ke media sosial mengalakkan pengunaan kantong plastik, menyampaikan bahaya sampah, dan cara cara lainnya untuk menyadarkan masyarakat dalam mengurangi sampah.

Menurunnya di tengah saat ini masyarakat juga harus dapat menjaga kondisi imunitas tubuh agar selalu fit. kita harus disiplin dalam menjaga jarak dan menjaga kesehatan diri. Hal itu menjadi sangat penting dilakukan saat ini untuk terhindar dari paparan virus corona.

Menggunakan botol air minuman (termos) sendiri untuk dikonsumsi juga merupakan salah satu mengurangi kantong plastik, cara tersebut agar aman terhindar dari virus maupun bakteri berbahaya.

Pengetahuan kita semua baik anak usia dini hingga dewasa perlu diasah atau diajarkan kompetensinya dalam meminimkan sampah dan mengelola sampah, pendidikan lingkungan berasal dari keluarga, penanaman karakter prasekolah PAUD hingga pada tingkatan Perguruan Tinggi mengaplikasikan, mengevaluasi, membudayakan bahkan meneliti permaslahan lingkungan, sehingga pengetahuan ini selalu berkesinambungan dan tidak boleh terputus sampai tuntas permasalahan lingkungan, diawali dari diri sendiri, dari yang kecil dan mudah dilakukan dan dari sekarang tidak boleh ditunda.

Kita sebagai pemuda-pemudi/ibu-ibu milenial akan menunjukan perilaku kekinian, setiap keluar rumah dengan membawa tas khusus untuk mengurangi sampah plastik saat berbelanja. Dan dengan selalu mengupgrade diri dengan penerapan sistem 3 R. yaitu Reuse, Reduce, Recyle. Reuse adalah menggunakan kembali sampah, Reduce yaitu mengurangi sampah, dan Recyle yang berarti mengolah sampah kembali atau mendaur ulang.

Melestarikan lingkungan hidup tidak bisa dilakukan sendirian, harus dilakukan oleh semua pihak, ikut turun dalam kerja sama, gotong royong bersama-sama baik pihak masyarakat, pemerintah, dan swasta.

Perlunya kesadaran bagi warga-warga didesa dan kota untuk peduli alam yaitu salah satu cara dengan menyusun dan membentuk suatu tim kerja, dan pada dasarnya diperlukannya niat dan tekad yang kuat untuk mewujudkan lingkungan hijau, bersih, asri lagi nyaman.

Semua harus melakukan sesuai dengan fungsi dan tupoksinya masing-masing. Dari pihak masyarakat misalnya dengan melakukan gerakan pelestarian alam, gerakan melindungi alam yang dilakukan dengan kerja nyata.

Sedangkan pemerintah membuat peraturan pelindungan atau regulasi tentang pelindungan alam, serta dari pihak perusahaan atau swasta ialah dengan mematuhi regulasi yang sudah ada.

Akhirnya masing-masing kita mempunyai peran baik sebagai siswa maupun mahasiswa agar permasalah di negara kita teratasi. Marilah lebih peduli lagi terhadap bumi, bersikap lebih bijak terhadap bumi di masa pandemi covid-19 ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here