Home Fokus Nasional Pandemi Belum Berakhir, Para Ibu Ketar-Ketir

Pandemi Belum Berakhir, Para Ibu Ketar-Ketir

212

Oleh: Jumratul Sakdiah

#RecehBerjejak

Pagi itu, perbincangan hangat dimulai. Di tengah dinginnya dataran tinggi Gayo dan hembusan angin datang menambah kesejukan suasananya. Aku mulai bersiap-siap masuk ke majelisnya orang-orang soleh. Tepat jam 06.30 diskusi santai pun dilansungkan.

Tidak heran majelis dimulai secepat itu, karena faktanya Gayo Lues, tanah kelahiranku yang terkenal dengan wilayah terpelosok dan masih jauh dari jangkauan ibukota, mungkin setiap hari masyarakatnya mengeluhkan jaringan yang kadang padam, kuota internet yang mahal.

Kenapa tidak, daerah ini hanya menangkap jaringan Telkomsel saja dan jaringan lainnya masih jauh dari kata harapan. Pantas saja, perlu usaha keras hanya untuk sekedar menyaksikan live streaming asatidz hebat yang ditayangkan setiap harinya.

Tetapi aku salut, bukankah kuatnya batu karang itu lahir dari dentuman ombak setiap harinya? Dan bukankah pelaut ulung lahir dari kepayahan menghadapi ombak yang besar? Dan ribuan pertanyaan lainnya yang menjadikan al-fakir ini sontak bersyukur akan karunia yang tetap dilimpahkan di saat pandemi corona. Walaupun tak ada yang ideal dalam setiap prosesnya. Aku mendapati orang-orang hebat di dalamnya.

Melalui aplikasi zoom, aku melihat ada ibu-ibu yang bersama anaknya antusias membicarakan persoalan umat, di tengah kesibukan yang beragam pastinya. Dan aku juga yakin, diantara mereka ada yang harus berutang untuk membeli kuota sampai harus sambil ngecas hanya karena kualitas hp (perangkat) yang digunakan tidak kuat dengan beratnya kapasitas aplikasi dan beragam kisah lainnya yang mungkin setiap mereka punya cerita yang berbeda.

Akhirnya, tak ada perbincangan sia-sia yang aku lewatkan. Aku memperhatikan setiap pertanyaan yang muncul di forum itu. Dan aku mendapati satu pertanyaan yang membuat aku berpikir kritis tentangnya. Pertanyaan itu adalah “Bagaimana kebijakan khalifah terhadap pendidikan anak bangsa saat pandemi berlangsung lama?”

Pertanyaan itu memberi jawaban yang sangat berarti, karenanya pandemi Corona telah menunjukkan kelemahan sistem pendidikan yang saat ini dijalankan.

Sistem pendidikan berbasis sekuler mencetak generasi brutal dan krisis identitas. Walhasil belajar di sekolah hanya karena haus nilai bukan haus ilmu. Sehingga bermunculan para pelajar yang menghalalkan segala cara dalam mendapatkan nilai tinggi hanya untuk meraih eksistensi di tengah masyarakat.

Tak heran, jika masalah pendidikan datang bermunculan. Mulai dari lemahnya kualitas intelektual anak setelah mengenyam pendidikan sampai kepada buruknya karakter yang menunjukkan gagalnya sistem pendidikan saat ini dalam menghasilkan output pendidikan sebenarnya.

Terlebih lagi di tengah pandemi, pendidikan ideal semakin jauh dari harapan. Jaminan sarana dan prasarana yang tidak memadai, kurangnya kesadaran anak untuk belajar dan nasib tenaga pendidik yang terus berjuang dalam kesulitan yang kian bertambah. Guru, sebuah profesi yang diakui memperoleh gaji rendah dan tak linear dengan jerih payahnya. Kini ia harus bertarung dengan Corona.

Pasalnya, saat semua diimbau untuk tetap di rumah saja, guru mendapati siswa yang tak memiliki fasilitas untuk belajar daring. Akhirnya guru menyelusuri setiap tempat tinggal siswa dan memastikan siswa tetap belajar di rumah dan mengerjakan tugas yang diberikan. Ini tugas yang sangat luar biasa. Tapi sayang, terkadang daya juang mereka tak berbalas apresiasi dan penghargaan. Miris!

Belum lagi guru yang tak berkompetensi dari segi teknologi, dan bukankah ini tugas pemerintah yang seharusnya memberikan bekal sebelumnya kepada guru agar siap menghadapi tantangan pendidikan di segala situasi? Tapi pemerintah alpa dengan hal ini. Saat pandemi, banyak kebijakan yang ditetapkan pemerintah, namun nyatanya banyak pihak yang belum siap.

Berbeda dengan sistem pendidikan Islam. Islam memandang bahwa pendidikan adalah tanggung jawab penuh atas negara. Visi misi pendidikan adalah mencetak insan yang berkarakter. Mengkombinasikan antara ilmu dengan takwa. Walhasil, semakin berilmu maka semakin bertakwa. Pendidikan ada untuk mencerdaskan siswa sebagai pengisi peradaban selanjutnya. Sehingga pendidikan menjadi perhatian penting oleh negara.

Bukan hanya visi misi yang bersifat krusial, bahkan sarana dan prasarana menjadi tangga agar sampai kepada tujuan yang diharapkan, apalagi di tengah kondisi seperti ini, maka pemerintah akan memfasilitasi dengan gratis segala hal yang dibutuhkan dalam pembelajaran.

Saat pandemi berlangsung lama, maka proses pembelajaran masih tetap dilakukan. Melalui daring misalnya, dengan catatan fasilitas terjangkau oleh guru dan siswa. Sehingga capaian pendidikan tetap menjadi bagian dari prioritas.

Saat pembelajaran dilakukan di rumah. Maka sosok yang terdekat dengan siswa adalah orang tuanya, terutama ibu sebagai pendidik generasi. Maka Ibu sangat berperan penting dalam mengajari banyak hal kepada anaknya. Untuk itu seorang ibu dituntut cerdas dan menguasai banyak hal. Dan ini menjadi perhatian pemerintah dalam menyadarkan peran ibu sesungguhnya serta membekali mereka ilmu tentang itu.

Ibu, kodratnya di rumah dan ayah yang mencari nafkah. Tapi di dalam sistem kehidupan kapitalisme, perempuan diberdayakan dalam bidang ekonomi. Sehingga tak jarang kita melihat perempuan ikut terjun keluar rumah mengais sisa-sisa rupiah untuk melangsungkan kehidupan keluarga di tengah kebutuhan hidup yang tak mendapatkan jaminan dari negara.
Mereka lupa fungsinya sebagai ibu, pendidik pertama dan selamanya untuk anak mereka. Karena dalam proses pendidikan, bukan sepenuhnya tanggung jawab guru dalam mendidik siswa, namun orang tua menjadi aspek penting yang menjadi perhatian. Sehingga walaupun di kondisi pandemi yang mungkin berlangsung lama dan kendala kesulitan guru mengawasi anak, maka disinilah peran orang tua sangat diperlukan.

Tak heran jika saat ini kondisinya masih jauh dari harapan. Banyak orang tua yang mengakui kewalahan mendidik anaknya dan bahkan mereka menyerah dengan kondisi ini dan sampai mereka merelakan anaknya tetap sekolah tatap muka walau dalam kondisi pandemi yang besar resiko penularannya.

Begini ringkasnya, dalam Islam, wabah menjadi bagian dari masa krisis yang harus segera diselesaikan. Sehingga kebijakan khalifah juga tegas dan jelas, masyarakatnya tidak bingung dan mereka menaati semua himbauan pemerintah. Nah di masa merebaknya wabah pendidikan tetaplah dijalankan dengan mekanisme katagori aman dan tercapainya tujuan dari pendidikan itu sendiri.

Islam mengatur pendidikan sedemikian rupa karena Islam adalah sebuah agama yang sangat memuliakan akal. Karenanya pemikiran manusia harus diisi dengan pemikiran cemerlang. Dengannya akan menghasilkan generasi yang mampu mencetak peradaban gemilang di masa yang akan datang.

Wallahualam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here