Home Fokus Nasional Merubah Kebiasaan pada Anak dengan Melaksanakan Ibadah pada Bulan Suci Ramadhan

Merubah Kebiasaan pada Anak dengan Melaksanakan Ibadah pada Bulan Suci Ramadhan

168

OLEH AINUN NA’IM ALFIAN, Mahasiswa Prodi Psikologi Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

 

Bulan suci Ramadhan yang identik dengan bulan yang sangat penuh berkah dan bulan yang sangat dinanti-nantikan oleh seluruh kaum muslim yang berada di dunia, dimana pada bulan ini merupakan salah satu bulan yang suci dan memiliki banyak kemuliaan, di waktu bulan inilah semua kaum Muslimin berlomba-lomba dalam memperbanyak ibadah, mulai dari berpuasa, tadarus, dan shalat Tarawih. Semua kaum Muslimin itu berusaha melakukan yang terbaik dalam beribadah di bulan puasa karena di bulan inilah Allah SWT memberikan banyak pahala dan kemuliaan bagi kaum Muslimin.

Dalam kehidupan sehari-hari hampir daripada setiap anak-anak-anak muslim pada bulan ramadhan masih banyak yang tidak ikut serta dalam menahan lapar dan haus atau tidak melakukan ibadah berpuasa yang hukumnya wajib pada bulan tersebut. Dimana masih banyak toko-toko yang buka pada masa bulan Ramadhan ini dan dikabarkan bahwa pembeli pertama terbanyak yaitu dari kalangan para anak-anak yang masih tidak ikut serta dalam menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan. Tidak salahkah jika anak-anak tersebut sudah mulai bisa melatih dirinya untuk mencoba berpuasa ? salahkan jika orang tua dapat menjadikan ibadah pada bulan Ramadhan ini sebagai wadah pembentukan emosional dan sebuah pembelajaran pada anak dengan mengerjakan hal baru yang tidak pernah dikerjakan sebelumnya seperti puasa, shalat, dan lain sebagainya yang merupakan sumber ibadah yang bisa dilakukan pada bulan tersebut, baik itu dengan memberikan hadiah atau hukuman bagi si anak itu sendiri.

Menurut pendekatan dari ilmu psikologi hal tersebut dikatakan sebagai Operant Conditioning dimana hal ini merupakan pembelajaran yang dibentuk dengan memberikan hukuman atau hadiah terhadap si pelaku dan ada juga peran penguatan didalamnya dimana hal ini telah banyak dijelaskan oleh beberapa ahli psikologi mengenai pembentukan pembelajaran tersebut, seperti contoh pada penelitian yang dilakukan oleh Skinner sendiri ia terkenal dengan skinner box, dimana ia membuat box yang disebut skinner box yang ia berisikan tikus yang sedang merasa kelaparan, dan di kotak tersebut juga terdapat beberapa tombol dan wadah yang berisikan makanan yang sering dijadikan santapan oleh tikus. Dengan tikus yang merasa kelaparan ini yang berada di dalam kotak tersebut pastinya ia tidak hanya berdiri dengan diam begitu saja ia mencari cara dan celah-celah agar dia mendapati makanan yang akan ia makanan, pertama tikus masih mondar mandir dan hanya menggigit kotak-kotak tersebut sembari mencari cara lainnya, sehingga ketika saat tikus terkena tombol yang dimana merupakan kode untuk ia mendapatkan makanan, mulai dari itu seekor tikus itu sudah mengetahui jika ia menginjak atau menyentuh tombol tersebut ia akan mendapatkan makanan, dan bahkan jika si tikus menyentuh tombol lainnya yang dimana tombol tersebut merupakan tombol yang memberikan ia hukuman seperti misalnya dengan tikus terkena tombol ini maka tikus tersebut akan disemprotkan dengan air, maka dari itu tikus tersebut telah belajar bahwa tombol yang ia sentuh tersebut bukanlah tombol yang memberikan hadiah kepadanya yaitu makanan yang ia cari, melainkan hukuman air yang menyemprot ke atasnya, sehingga tikus kembali berupaya untuk menyentuh tombol yang akan ia dapatkan tersebut untuk mendapatkan sebuah makanan dikarenakan pada saat itu tikus tersebut sedang merasakan lapar yang bersangatan.

Dari peristiwa penelitian yang telah dijelaskan diatas bukankah kita dapat mengambil contoh hal tersebut untuk menerapkan kepada anak-anak dalam memulai melakukan berbagai macam ibadah pada bulan suci Ramadhan yang sedang kita jalani ini, sebagai bentuk pembelajaran atau kebiasaan baru pada si anak sejak dini dengan mula adanya pemberian hadiah atau memberikan sebuah hukuman, seperti ketika pada kebiasaan anak yang suka dengan bermain dengan teman-temannya pada hari biasanya, atau anak-anak yang suka bermain gadget, oleh sebab itu dapat kita ambil sebuah ancaman untuk menjadikan sebuah sumber agar anak mau dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadhan, dengan mengatakan bahwa “Jika adik tidak mau berpuasa atau shalat tarawih pada bulan puasa tahun ini akan disita gadgetnya, atau akan tidak diberikan izin untuk bermain seperti biasanya bersama dengan teman-temanya”. Hal tersebut biasa dikatakan sebagai sebuah hukuman yang diciptakan agar pembentukan kebiasaan anak pada mengerjakan ibadah ketika sedang didalam bulan suci ini, mungkin dengan adanya pengancaman tersebut atau hukuman yang diberikan maka anak akan menuruti semua yang apa dikatakan oleh orang tuanya, sehingga anak akan mulai belajar untuk melakukan hal yang baru mencoba untuk berbuat dikarenakan sebab hukuman yang telah dilontarkan oleh orang tuanya. Selain pemberian hukuman ada juga pemberian hadiah yang dimana akan menjadi landasan terhadap terbentuknya kebiasaan pada anak seperti hal yang telah dijelaskan pada penelitian Skinner, dan hal tersebut berhasil sebagai pembentukan pembelajaran baru pada tikus tersebut jika ia tersentuh tombol kode makanan maka ia mendapatkan makanan yang akan ia santapkan, untuk membentuk kebiasaan pada anak dalam menjalankan ibadah pada bulan puasa ini bisa dicontohkan sebagai pemberian pujian atau memberikan sesuatu yang menjadi keinganan oleh si anak atau suatu hal yang menjadi sebagai bahan kesenangan baginya, seperti contoh akan menghadiahkannya sepeda atau baju baru ketika lebaran nanti, jadi dengan itu anak akan menjadinya sebagai sebuah motivasi untuk mengerjakan hal yang dimaksudkan oleh tuanya yaitu jika ia akan beribadah pada bulan suci yang pernah berkah ini baik itu ia berpuasa atau shalat tarawih dengan mengikuti orang tuanya pergi ke masjid maka ia akan mendapatkan hal yang akan ia inginkan tersebut, atau hal lainnya seperti yang telah dikatakan dengan memberikannya pujian, dengan itu si anak akan lebih semangat dan termotivasi untuk mengikuti perintah dari orang tuanya karena pujian yang telah dilontarkan yang membuatkannya senang akan hal bahwa dimata orang dia begitu hebat, contoh pujian tersebut seperti : “Ganteng sekali adik memakai peci ketika hendak shalat”, “Hebat sekali adik, meskipun masih kecil tetap kuat dalam menahan puasanya”. Pujian ini menjadi salah satu landasan yang membuat anak semakin terdorong untuk melakukan hal yang telah kita perintahkan.

Sebaiknya bulan ramadhan kali ini, mari kita mulai membenah anak-anak atau adik-adik kita yang pada dasarnya tahun lalu masih termasuk ke kategori belum memulai pembelajaran akan kebiasan terbaru dalam mencoba untuk melakukan ibadah, dan pada tahun ini kita akan mencoba mempraktekkan hal demikian tersebut untuk menciptakannya kebiasaan pada anak sejak dini dalam menanamkan kebiasaan dan mengajak mereka untuk melakukan segala ibadah sejak dini ketika ia masih sejak kecil, karena pada dasarnya pembelajaran yang ditanamkan semenjak seorang anak masih berada pada fase kanak-kanaknya akan menjadi sebuah kebiasaan yang menjadi hal ringan atau terbiasa ketika ia berada di fase kedepannya, dan seperti kata pepatah yang sering jadikan sebuah landasan yaitu “Ala bisa karena biasa”, maka suatu hal akan terciptakan jika terbiasanya seseorang tersebut menjalankannya, selain itu anak juga akan mudah mengikuti dan menirukan peran yang dilakukan oleh tuanya ketika masa kecil, dan disarankan bahwa kepada orang tua ketika hendak melakukan praktikan hal yang terkait tentang membentuk sebuah pelajaran baru terhadap anaknya pada bulan suci Ramadhan tahun ini, dan hendaklah tetap berfikir positif dalam memulainya karena percayalah sesuatu hal yang dilandasi dengan berpikiran secara positif akan kejadian kedepannya maka Insya Allah semua hal yang sedang dijalani tersebut juga akan memiliki hasil yang positif pula.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here