Home Fokus Nasional Meratapi Asa Petani Kopi di Tengah Pendemi

Meratapi Asa Petani Kopi di Tengah Pendemi

167
0

Oleh: Suci Hajariah mahasiswa prodi Hukum Keluarga fakultas Syariah dan Hukum Universitas Ar-Raniry

 

​Dampak pandemi covid-19 begitu terasa terutama bagi petani kopi yang berada di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, yang mayoritas mata pencarianya hanya berasal dari kebun kopi. Pada awal Januari 2020 harga kopi mulai terus menurun hingga saat ini. Harga kopi yang di jual petani saat ini nyaris berkurang sebanyak 50% dari harga biasanya.

Harga kopi yang dijual petani kepada pengepul seperti kopi gelondongan merah hanya berkisar dari Rp.6000-7000/kg, kopi gabah berkisar Rp.19.000-23.000/bambu. Sedangakan untuk harga biji kopi kering hanya berkisar Rp. 40.000- 42.000/kg.

Melemahnya harga jual disebabkan karna tingkat konsumsi kopi dunia terhadap kopi Gayo menurun pasca pandemi. Ketua Asosiasi Produser Fairtrade Indonesia (APFI) Armiadi di Takengon mengatakan pandemi COVID-19 saat ini telah membuat tren minum kopi di negara-negara di belahan dunia menurun akibat banyak kedai-kedai kopi atau coffe shop berhenti beroperasi.

Begitupun dengan pasar ekspor, negara pengimpor kopi Gayo seperti malaysia, Singapura, dan Vietnam saat ini mengalami hal yang sama yaitu pandemi. Para eksportir saat ini membeli kopi dengan dua alasan, yaitu untuk memenuhi kebutuhan kontrak yang sudah terjalin dan untuk tujuan disimpan sebagai barang stok di gudang.

 

Tetapi berdasarkan data dari Dinas Perdangangan Aceh hingga saat ini masih adanya kegiatan Ekspor kopi Gayo ke sejumlah negara dengan harga yang masih cukup tinggi yaitu mencapai USD 5/kg, harga ini cukup tinggi dikarnakan dolar naik, seharusnya kopi cendrung naik, namun saat ini kopi turun ini adalah ujian diberikan kepada masyarakat Petani kopi, lantas bagaimanakah nasip dari petani kopi yang harganya sangat sangat rendah di saat pandemi? mereka hanya bisa meratapi asa bagaimanapun kopi yang mereka panen harus dijual untuk melangsungkan hidup meskipun hasilnya tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.

 

Melemahnya harga kopi tersebut tentunya sangat berdampak pada kesejahtraan rakyat, sehingga masyarakat berharap Pemerintahan Daerah Aceh dan Pemerintahan Pusat segera dapat mengambil langkah untuk menstabilkan harga kopi, karna mengingat panen raya kopi arabika Gayo berada pada bulan Mei dan berakhir dalam jangka waktu 2 bulan kedepanya yakni sampai bulan Juli.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here