Home Aceh Meningkatkan Rasa Solidaritas Di Tengah Pandemi COVID 19

Meningkatkan Rasa Solidaritas Di Tengah Pandemi COVID 19

108
0

Oleh Rifa Ulva Depi

Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah, Sebagai bulan yang suci bagi umat muslim. inilah saat yang tepat untuk terus meningkatkan amal dan perbuatan dalam hal kebaikan dengan mengharapkan pahala dan ridhoNya, karena bulan Ramadan ini setiap amal dan perbuatan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah akan digandakan nilai pahalanya.

Defenisi mengenai ibadah tidak terbatas pada urusan hubungan dengan tuhan saja yang dikenal dengan Hablumminallah, setiap yang diperintahkan oleh Allah bertujuan untuk meningkatkan hubungan vertical dan horizontal secara berkesinambungan.

Untuk itu ada pula hablumminannas yakni ibadah dalam bentuk kepedulian terhadap sesama manusia dalam menjaga hubungan kita sebagai makhluk sosial dan makhluk yang membutuhkan satu sama lain.

Bulan Ramadan ini juga merupakan suatu peluang untuk menamabah amal kebaikan dengan saling membantu dan meningkatkan rasa solidaritas terhadap sesama, tidak ada perbedaan kaya atau miskin, kulit putih maupun kulit hitam, penguasa maupaun rakyat jelata.

Sebagai umat islam dianjurkan untuk meningkatkan rasa solidaritas kepada yang lain dengan cara bersedekah, bersedekah merupakan salah cara untuk menambah peluang meningkatkan ibadah kepada Allah SWT.

Bulan Ramadan tahun ini yang jauh berbeda dengan tahun yang lalu, pandemi corona di Indonesia membuat banyak kegiatan terganggu baik itu dibidang ekonomi sosial dan budaya hingga keagamaan termasuk Ramadan kali ini yang terbentur dengan masa pandemi banyak peraturan pemerintah yang menghilangkan kebiasaan masyarakat di indonesia dibulan suci Ramadan ini untuk menekan angka penyebaran Covid-19.

Semenjak permakali muncul pada awal Desember 2019 lalu, di wuhan, China, hingga sekarang, jumlah orang yang positif terjangkit covid-19 hampir menembus angka 14.749 di tanggal 12 mei 2020 ( Pikiran Rakyat).

Pandemi tersebut tidak melihat status sosial seseorang, tak peduli tua atau muda semua bisa tertular. Covid-19 pun mengubah langkah dan aktivitas kehidupan manusia secara nyata. Hampir semua aktivitas seperti bekerja, belajar, berdakwah, berdagang, dilakukan secara daring.

Dampak dari wabah covid-19 ini tidak hanya merugikan dari sisi kesehatan saja, namun turut juga mempengaruhi sosial ekonomi dan budaya, perekonomian masyakat seolah terjun payung, bahkan daya beli masyarakat juga semakin menurun, selain menyebabkan harga sembako melambung naik.

Sementara itu harga komoditi hasil pertanian masyarakat semakin menurun.Tak hanya itu, banyak masyarakat kehilangan mata pencaharian pada masa covid-19 ini. Bahkan ada yang meninggal dunia karena kelaparan dikarenakan tidak bisa bekerja untuk mencari nafkah (Liputan6.com).

Banyak pegawai yang dirumahkan dan otomatis mereka tidak memperoleh penghasilan. Banyak pekerja harian, pedagang pasar maupun sektor informal laiinya harus berhenti bekerja karena kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (Kompos.Com).

Dalam kondisi seperti saat ini, yang kita butuhkan adalah membangun solidaritas antar sesama, sikap solidaritas pada batas tertentu yang musti dilihat dan dipahami, dalam kondisi seperti ini akan lebih baik dan menghadirkan satu pemahaman dan misi besar menyelesaikan virus corona.

Tentu yang musti dilihat dan dipahami membangun sikap solidaritas ditengan pandemi covid-19 sangat sulit jika masih mendaku sikap egois. Solidaritas harus dibentuk atas dasar persamaan nasib sekaligus ingin berkorban bagi semua orang.

Dalam kondisi seperti ini sangat sulit menemukan sikap-sikap seperti ingin membantu karena telah menciptakan suatu wabah besar yang bahkan lebih buruk dari wabah corona yakni kepanikan.

Sikap panik sering membawa orang dalam satu perasaan panik yang berlebih dan menjauhkan kita dari sikap solidaritas.
Pada saat ini sikap alturisme harus lebih diutamakan dan mengedepankan sikap kepedulian atau rasa solidaritas dan kemanusiaan kita untuk memberikan nilai bagi sesama kita.

Kini manusia dalam posisi yang sama jika ibadah puasa mampu menghadirkan semangat dikalangan umat islam diseluruh dunia, dimana semunya menjalankan perintah yang sama dari Allah.

Karenanya ibadah puasa ditengah covid-19 ini, sebuah upaya untuk mengistal ulang diri manusia agar merenungkan dan mengingat tentang kekuasaan Allah SWT. Sehebat apapun manusia berencana, Allah lah yang menentukannya.

Selain itu, kita berharap puasa ditengah pandemi ini tidak hanya mampu mengubah dan menumbuhkan kepekaan spiritual kita, tetapi juga meningkatkan kepekaan sosial, wujud dari kepekaan sosial adalah sikap empati dan pro-sosial.

Empati merupakan suatu keadaan dimana orang merasa dirinya berada dalam perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain, sementara pro-sosial adalah tindakan moral seperti rela membantu seseorang yang membutuhkan.

Saling membantu sesama masyarkat guna untuk mengatasi krisis yg sedang terjadi. Uluran tangan baik dari tetanga dan pejabat sangat di harapkan oleh masyarakat yg terkena dampak dari pandemi ini.

Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [al-Mâidah/5:2]

Dari ayat diatas juga memerintahkan kita untuk senantiasa saling menolong dalam hal kebaikan.Masyakat seharusnya saling membantu sesuai anjuran ayat Alquran diatas, yang juga menjadi cita-cita bangsa Indonesia dalam pancasila sebagai dasar negara, saling membantu tanpa melihat agama, etnik dan budaya, dan itu merupakan ajaran dalam agama di Indonsia maupun didunia.
Oleh karena itu, manfaatkanlah bulan Ramadan ini sebagai ladang untuk menebar kebaikan, membangun rasa empati, kasih sayang dan rasa solidaritas kepada orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here