Home Aceh Menelusuri Budaya Gayo: Dibalik Makna Simbol Upuh Ulen-ulen

Menelusuri Budaya Gayo: Dibalik Makna Simbol Upuh Ulen-ulen

99
0

Oleh : Lisma Sari

Mahasiswa fakultas Ushuluddin dan Filsafat

Di era moderen saat ini budaya mulai tertinggal dengan perkembangan teknologi yang semakin meningkat. Namun ada budaya yang perlu dilestarikan yaitu pemakain upuh ulen-ulen dalam perosesi beguru pada acara pernikahan yang ada di suku Gayo.

Sebelum membahas tentang upuh ulen-ulen kita harus mengetahui apa itu Kerawang Gayo, kata Ker dalam bahasa gayo bermakna daya fikir dan rancangan yang abstrak terjadi secara spontan. Kemudian kata Rawang yang berarti suatu fenomena atau hal terbaru.

Jadi, kerawang itu merupakan wujud dari imajinasi spontanitas individu manusia. Kemudian Warna yang terdapat pada Kerawang memiliki makna tersendiri, yakni seperti warna hitam; merupakan hasil keputusan adat, warna merah; sebagai tanda berani (mersik) bertindak dalam kebenaran. warna putih; sebagai tanda suci dalam tindakan lahir dan batin. warna hijau; sebagai tanda kejayaan dan kerajinan (lisik)di dalam kehidupan sehari-hari. warna kuning; sebagai tanda hati-hati dalam bertindak.

Itulah makna warna yang terkandung di dalam kerawang. Seiring berjalanya waktu maka kreatifitas masyarakat pun semakin maju yang tidak hanya bertumpu pada ukiran yang terletak pada rumah adat gayo, tetapi juga di tuangkan kedalam kain tradisional yang di sebut dengan (upuh ulen- ulen ) yang memiliki berbagai bentuk motif.

Makna motif Kerawang itu antara lain; Motif Emun Berangkat (awan berarak) merupakan lambang ketinggian cita- cita dengan harapan bahwa manusia mampu mengarungi cobaan hidup di dunia.

Motif Tali Puter Tige (pilin berganda) menggambarkan kekokohan yang dapat di wujudkan dengan adanya rasa persatuan dan kesatuan.

Motif Pucuk Ni Tuis (pucuk nya rebung) dalam falsafah masyarakat gayo, pucuk ni tuis (pucuk rebung) memiliki hakikat nilai-nilai berupa harapan agar masyarakat gayo harus teguh berpendirian, kuat beriman dan bertaqwa, rendah hati, serta berakhlak baik.

Motif Bulan Purnama, yang terdapat ditengah-tengah warna hitam, dengan warna putih yang bercahaya seperti bulan purnama. Petuah adat yang terkandung didalamnya ialah nasihat “jika masih ada secercah sinar di langit mendung berprahara arahkan pandangan matamu kesinar yang terang itu, bukan kepada kegelapan yang mengitaringa”.

Sebuah nasihat yang menganjurkan hidup optimis, bukan sebaliknya agar giat beikhtiar, dan tidak putus asa. Motif Peger (Pagar), dan Motif Ulen (Bulan).

Motif pagar sesuai dengan namanya menjadi pembatas antara satu motif dengan motif yang lainnya. Yang mana bagi masyarakat gayo motif pagar merupakan simbol pertahanan dan ketertiban sosial masyarakat.

Biasanya motif pagar ini terletak pada dinding pembatas disetiap kelima motif dasar tersebut, sehingga kelima motif tersebut dipadukan dalam satu kain lebar yang disebut sebagai Upuh Ulen-Ulen dengan jenis bahan Polyester yang bersifat kuat, tidak mudah kerut dan tidak mudah luntur.

Satu istilah dalam suku gayo yang dikenal dengan sebutan Tapak Seleman (Telapak Nabi Sulaiman) mempertegas bahwa dalam kehidupan masyarakat gayo terdapat empat unsur yang menaungi sistem adat dan pemerintahan yang dikenal dengan sebutan Sarak Opat (4 unsur).

Keempat unsur itu adalah: Yang pertama Reje Musuket Sifet (raja harus bersifat adil), yang kedua Petue Musidik sasat (cendikiawan yang memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas).

Yang ketiga Imem Muperlu Sunet (Imam harus mengetahui mana yang wajib dan mana yang sunnah dan membedakan mana yang haram dan mana yang halal). Yang keempat Rakyat Genap Mupakat ( Rakyat harus searah dengan apa yang sudah disepakati dalam menyelesaikan masalah dengan cara musyawarah).

Upuh Ulen-ulen sering digunakan sebagai alat dalam melangsungkan acara pernikahan yaitu dalam Upacara Beguru (meminta restu dari orang tua), serta untuk penyambutan tamu- tamu dari luar.

Dalam proses acara Beguru, suatu kebiasaan yang sudah menjadi adat dalam perkawinan, yang mana pasangan pengantin (aman mayak atau inen mayak) wajib memakai upuh ulen-ulen (Kerawang gayo bulan), yang diselimutkan pada proses Beguru.

Karena makna yang terdapat pada upuh ulen-ulen merupakan simbol kekuatan dan memberi penerangan pada dunia yang diselimutkan kepada pasangan pengantin. Kebiasaan ini sudah menjadi teradisi yang dilakukan sejak nenek moyang masih hidup dan sampai sekarang masih terus digunakan dan menjadi budaya, guna untuk melanjutkan tradisi-tradisi yang sangat dijunjung tinggi, karena merupakan lambang atau identitas suku Gayo yang tidak dapat dijumpai di daerah lain.

Dalam perosesi meminta izin (beguru), Geuchik (Imem Kampung) akan memberi arahan atau pun amanah kepada kedua pengantin dan semua tamu undangan, yang amanatnya berisi tentang amanah yang disampaikan kepada kedua penganting bahwa saling berjanji dan membangun keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Sering kali dalam penyampaian nasehat tersebut diselipkan nasehat tentang sumang opat (4 larangan dalam suku gayo) yaitu; Sumang Pengonen (Larangan Penglihatan), bahwasannya ketika sudah menikah jangan sesekali melirik pasangan lain, jagalah keharmonisan rumah tanggamu,

Sumang Pecerakan (Larangan Berbicara), yang artinya berbicaralah kamu dengan tutur kata yang baik, sesuai dengan baiknya akhlakmu, Sumang Pelangkahan (Larangan Berjalan), penggalan pepatah gayo “Beluh ara si rai mewen ara si i wei” (pergi ada yang diambil menunggu ada yang ditunggu), jika sesuatu perjalanan tidak perlu (tidak penting) maka jangan lakukan itu,

Sumang Kenunulen (Larangan Ketika Duduk), bahwasannya jangan sesekali kamu duduk setara dengan orang yang lebih tua darimu, maksudnya seperti duduk setara dengan ayah mertua itu sangat dilarang dalam suku gayo.

Inilah sekilas tentang budaya di suku gayo mulai dari pengertian kerawang, makna motif upuh ulen-ulen dan sampailah kepada penggunaan ulen-ulen dalam sinte mungerje( acara perkawinan) yang dipakai pada prosesi beguru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here