Home Fokus Nasional KELUARGA SEBAGAI TEMPAT PERTAMA BAGI ANAK DALAM MENDAPATKAN PENDALAMAN KARAKTER

KELUARGA SEBAGAI TEMPAT PERTAMA BAGI ANAK DALAM MENDAPATKAN PENDALAMAN KARAKTER

165

Oleh : Ira ulvawati

Mahasiswa uin ar- raniry, Prodi Sosiologi Agama

Keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam berjalannya kehidupan. Keluarga menjadi tempat dimana fungsi agama pertama kali diberikan kepada anak, dengan cara menanamkan kepada anak bahwa identitas agama adalah hal utama, ketika keluarga berhasil menanamkan fungsi agama kepada anak, maka akan meminimalkan terjadinya penyimpangan perilaku anak dan mampu memberikan fondasi yang kuat bagi seluruh anggota keluarganya.

Ketika keluarga berhasil menanamkan pondasi agama yang kuat maka anak akan tumbuh sebagai anak yang memiliki rasa kasih sayang yang tinggi, mampu mengintrol emosi, dan berakhlak mulia.

Sejak anak dilahirkan maka sejak itu juga orang tua memberikan seluruh perhatiannya kepada kepada sang anak. Perasaan disayangi sangat penting bagi seorang anak, karena dengan begitu, ia juga akan tumbuh menjadi seseorang yang mampu menyayangi juga.

Kasih sayang menjadi modal bagi orang tua untuk menumbuhkan kasih sayang anak dalam konteks yang lebih luas dan mampu mengurangi perilaku menyimpang dari anak sehingga mampu mengatasi permusuhan dan anarkisme dalam masyarakat.

Selanjutnya fungsi perlindungan, keluarga harus menjadi tempat berlingdung bagi anak , dengan begitu walaupun seburuk apapun permasalahan yang sedang ia hadapi jika keluarga merupakan tempat berlindung bagi anak, maka ia akan mampu mengatasi permasalahannya.

Cara anak bersikap juga bisa dinilai dari pendalaman karakter yang diberikan di dalam keluarga, seperti sosialisasi dan terhadap masyarakat dan lingkungannya. Dalam berkembangnya anak, maka orang tua sudah seharusnya memperkenalkan kepada anak bagaimana nilai-nilai sosial yang baik serta budaya yang ada di masyarakat.

Sopan santun, etika, merupakan hal yang sangat di junjung tinggi di Indonesia, walaupun yang kita dapati saat ini adalah banyak sekali anak bangsa yang sudah lupa akan sopan santun dan etika yang seharusnya sangat dijaga dari anggota keluargalah anak-anak belajar bagaimana harus bersikap dan mengerti macam-macam norma di masyarakat.

Oleh karenanya, keluarga yang menjunjung tingggi nilai budaya dan norma pasti akan memberikan efek kepada kehidupan anak, sehingga anak akan cenderung lebih patuh akan aturan yang ditetapkan di dalam masyarakat.

Keluarga menjadi tempat pertama bagi anak dalam melakukan sosialisasi dengan orang lain dan belajar pendidikan. Keluarga harus bisa memberikan dorongan yang baik bagi anak dalam mengambil sikap dan keputusan, karena ketika anak berada di dalam ruang lingkup masyarakat ia akan dapat menilai apa saja hal yang baik dan yang tidak baik.

Misalnya permasalahan yang timbul di dalam masyarakat pada hakekatnya adalah satu hal yang wajar terjadi dikalangan masyarakat dari segala kelas sosial, akan tetapi apabila terus menerus dan tidak diperbaiki dapat menyebabkan perpecahan dan kesenjangan antar masyarakat. Keluarga juga harus mampu mengatasi konflik yang disebabkan oleh anggota keluarganya. Sejingga menghadirkan kenyamanan, ketentraman dan keamanan tersebut.

Tingkah laku anak tercermin bagaimana keluarganya memperlakukannya, dari kebanyakan kasus ditemukan bahwa keluarga yang baik yang memenuhi fungsi keluarga akan mampu mendidik anak menjadi anak yang berkarakter baik juga.

Salah satu sifat yang harus dimiliki oleh anak dalam berinteraksi di masyarakat yaitu kerukunan, kerukunan dalam pandangannya, menurutnya pengertian kerukunan berarti menciptakan bentuk kesatuan dan integrasi social dalam masyarakat dengan konsep-konsep tertentu dalam upaya mempersatuakan mahluk social supaya dapat mengelola dengan baik apa itu perbedaan dan tidak salaing menyalahkan dan saling membenci, baik secara individu atau kelompok untuk memberikan rasa kenyaman dan ketentraman.

Sifat lainnya yang harus ditanamkan oleh keluarga kepada anak yaitu sifat kerja sama sebagai bentuk bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain di setiap aktivitas yang dilakukakannya dan anak tidak bisa melakukan sesuatu dengan sendirinya.

Manusia adalah makhluk social yang sangat membutuhkan hubungan dan interaksi sosial dengan manusia lainnya. Oleh karenanya keluarga harus membimbing anak dan mengajarkan kepadanya bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri, mereka butuh bersama sama untuk melanjutkan hidup, orang kaya juga butuh kepada orang lain, begitu juga sebaliknya. Sampai saat ini belum ada manusia yang bisa bertahan hidup sendirian walaupun bergelimang harta. Sebagai makhluk social, manusia memerlukan kerja sama dengan orang lain dalam memenuhi dan mencapai kebutuhan hidupnya, seperti kebutuhan material.

Dalam kehidupan bermasyaraat anak harus dapat hidup rukun dengan masyarakat, karena kerukunan sangat diperlukan dalam masyarakat secara keseluruhan, integrasi sosial sering kali terjadi terjadi dalam masyarakat yang tidak menjunjung tinggi nilai perbedaan sehingga menimbulkan keributan, bahkan saling tuding menuding dan saling menjatuhkan satu sama lain. Oleh karena itu sangat diperlukan kerukunan selain untuk mencapai ketertiban dalam masyarakat, kerukunan juga sebagai bentuk kekompakan suatu bangsa dimata dunia.

Keluarga menjadi tempat pertama bagi anak anak dalam pembentukan karakternya, selain keluarga, lingkungan juga memiliki pengaruh yang lebih kecil daripada pengaruh yang disebabkan oleh keluarga.

Banyak sekali kita jumpai anak-anak yang hidup menderita karena keluarganya yang todak bisa memberikan kenyamanan serta keamanan yang komplit kepadanya, dari itulah timbul rasa benci dan dendam dari dalam diri anak karena isi hati mereka tidak didengarkan dan mereka tidak tahu harus menyampaokannya bagaimana.

Oleh karenanya, keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk pulang, maka sudah seharusnya menjadikan keluarga sebagai tempat berlindung bagi anak, dengan begitu maka akan meminimalkan terjadinya permasalahan di dalam masyarakat. (dikutip dari: Adhiyasasti, Menur. 8 Fungsi Keluarga Yang Penting Untuk Dilakukan. 2018, 8 Mei, diakses pada tanggal 17 November 2020)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here