Home Fokus Nasional KEKERASAN TERHADAP ANAK DEMI MENDIDIK

KEKERASAN TERHADAP ANAK DEMI MENDIDIK

134
0

Oleh ;Norizan binti Razali

Prodi: hukum keluarga

Fakultas : Syariah & hukum

UIN Ar Raniry Banda Aceh

Islam memerhatikan Pendidikan anak sejak kecil dalam aspek Pendidikan jasmani , rohani, nafsani dan perkembangan seksual. Pendidikan dimulai sejak usia kecil akan lebih mudah dan lebih baik daripada dimulai sejak usia .dewasa.

Menurut al- Bayhaqiy dan Thabarany dri Abi al Barda dalam kitab Al- Awsath

“Perumpamaan orang belajar ilmu pada usia kecil bagaikan mengukir di atas batu dan perumpaan orang yang belajar ilmu pada usia dewasa bagaikan menulis di atas air”

Menurut H.R. Termizi

“Hak seorang anak kepada orang tuanya adalah mendapat Pendidikan, menulis, berenang, memanah dan mendapat rezeli halal”

Islam telah memberikan pokok-pokok dan metodologi untuk mencapai tujuan terbentuk dan terbimbing manusia dengan menamakan sisi-sisi teladan dari keperibadiannya yang bisa tumbuh dan berkembangnya tahapan-tahapan kehidupan selanjutnya. Metodologi ini meliputi aturan-aturan kehidupan sebelum kelahiran.

Dalam hadith riwayat Abu Daud

“Pukul lah mereka kerna tinggal solat sedang mereka berusia 10 tahun”

Jika 10 tahun ini seorang anak gak mau melaksanakan perintah shalat, maka orang tua diperintah memukul si anak. Hadith ini perintah hukuman bagi anak yang membelakang perintah atau melanggar larangan. Pukulan di sini maknanya adalah hukuman yang sesuai dengan kondisi , bisa jadi yang di pukul adalah batinnya dengan cara diisolasi atau sikap tak suka, sikap marah dan lain-lain.

Hukuman atau pukulan pada fisik jika diperlukan yang pada prinsipnya anak bisa mengubah dirinya menjadi lebih baik sesuai dengan perintah dan larangan. Pukulan fisik adalah pukulan yang tidak berbahaya tetapi bisa mengubah sikap anak menjadi lebih baik. Hukuman pukul diberikan kepada anak ketika berusia 10 tahun kerna pada usia ini seorang anak pada umumnya sudah mampu tahan pukulan.

Yang dimaksudkan pukulan di sini ialah pukulan yang tidak membahayakan tetapi pukulan mendidik yang berfungsi agar anak mengakui kesalahan dan mau memperbaiki diri. Pukulan hendaklah tidak diarahkan pada muka anak kerna itu identik mental dan kerhormatan seseorang dan juga banyak terdapat saraf-saraf yang sensertif.

Pemberian hukuman fisik ini dilakukan dalam hal yang mendesak kerna sebagian anak tidak akan bermenafaat bila diperingatkan dengan kata-kata, akan tetapi pukulan menjadi lebih banya menafaatnya bagi mereka. Jika mereka tetap dibiarkan tanpa melakukan pemukulan maka mereka bisa membuang semua kewajiban pada diri.

Sebuah keharusan untuk memberi hukuman fisik agar mereka terbisa bersikap disiplin dan memiliki rasa tanggungjawab yang tinggi untuk diri sendiri. Sifat tanggungjawab merupakan norma yang sangat krusial yang harus dipertubuhkan untuk tiap individu agar terciptanya kehidupan tenteram.

Sipintas kita melihat bahwa mendidik anak dalam Islam terdapat unsur-unsur kekerasan. Tetapi dalam Islam jika memukul dalam usaha mendidik anak tidak lah melanggar hukum perlindungan anak.

Sabab adanya hukuman cambuk 100 kali adalah kerna perzinaan. Dalam Al-Quran sendiri telah memberi hukuman rotan atau cambuk itu sebagai hukuman fisik kerna untuk mendidik orang yang berbuat salah agar tidak mengulangi lagi kesalahan dan sebagai peringatan kepada orang lain yang melihat dan mengetahui tentang pukulan rotan ini agar tidak mau melakukan kesalahan zina.

Kenapa gak hanya dihukum takzir atau denda bayaran rupiah aje atau hukuman buang daerah aje sudah cukup mengaibkan. Tapi kerna hukuman takzir ini gak menyakiti fisik, makanya gak terkesan untuk agar bisa mendidik. Ditakuti gara-gara gak adanya kesakitan maka perbuatan itu bisa diulangi.

Begitu lah hal nya dengan anak-anak. Pengaruh masyarakat di lingkungan dan pengaruh adroid yang menjadi ikutan, ramai dikalangan anak-anak kini sukar untuk dinasihati malah omongan atau ugutan orang tua itu cuma omongan kosong. Larangan demi larangan, ungutan demi ungutan tetap tidak ada kesan nya pada anak-anak kerna mereka gak merasai sakitnya fisik. Jika anak pernah disakitin fisik nya dengan pukulan nercaya dia bisa mengingatin dan merasai sakit itu apabila di beri ugutan oleh orang tua untuk memukul lagi jika anak mengulangi perbuatan salah itu.

Apakah semua pukulan fisik itu mendera? Memukul anak seakan sudah menjadi kebiasaan dan salah satu cara orangtua mendidik anak lebih-lebih lagi apabila anak ‘mengamuk’ atau temper tantrum. Sepertinya anak yang suka mengamuk dan tetap tidak berhenti klu tidak dipukul. Pukulan untuk menghalang anak agar tidak lebih agresif ini bukan lah pukulan yang bisa meninggalkan sebarang kesan lebam maupun luka. Kebiasaannya pukulan orangtua itu adalah di bahagian badan yang tidak sensetif seperti lengan tangan, kaki dan di pungul.

Di Negara Barat, perdebatan tentang boleh atau tidak memukul anak tidak sampai penghujungnya. Kajian-kajian yang telah dilakukan tidak benar-benar berjaya membuktikan wujudnya kesan negatif apabila anak dipukul kerna wujudnya banyak faktor yang mempengaruhi pembesaran anak-anak seperti pengaruh persekitaran.

Sebenarnya sama ada mau memukul anak atau tidak adalah tergantung kepada asas pertimbangan orangtua sendiri. Fikirkan dahulu adakah anak akan berubah sikap sekiranya dipukul. Adakah memukul anak benar-benar berkesan?

Walaupun orangtua berkeadaan terdesak untuk memukul anak dalam menanggani masallah anak tidak dengar cakap atau mengamuk, haruslah memastikan diri dalam keadaan tenang sebelum memukul. Jangan memukul dalam keadaan marah dikuatiri nafsu menguasai fikiran. Kesalahan yang dilakukan biarlah setimpal dengan hukuman. Janganlah diperpanjangkan masallah dengan gak perdulikan si anak setelah dipukul. Nasihati anak selepas dipukul .Cukup lah kesalahan itu telah dihukum.. Santuni lah dan bermesra lah dengan anak diwaktu-waktu lainnya agar anak merasai insaf akibat pukulan yang dilakukan.

Dalam memukul anak untuk mendidik hendaknya menggunakan alat memukul yang wajar agar tidak sampai mencederakan. Kegunaan rotan harus di pilih ukurannya yang sederhana, tidak terlalu besar atau tidak terlalu kecil, tidak terlalu baru dan tidak basah yang bisa menjadi berat dan melukakan. Dilarang mengangkat tangan sehingga kelihatan ketiak semasa merotan agar tidak merotan sepenuh tenaga. Tidak memukulnya berkali-kali tanpa ehsan kerna ini bisa menzalimi dan tidak menimbulkan keinsafan malah bisa menimbulkan rasa benci, dendam dan menghilangkan rasa hormat kepada orangtua yang memukul.

Nilai Pengajaran dalam pukulan bukan terletak pada tahap kesakitan akibat pukulan itu, tetapi terletak pada berapa dalamnya perasaan insaf akan kesalahan yang dilakukan. Keinsafan ini boleh diperdalamkan dengan nasihat dan curahan perasaan orangtua selepas pukulan dilakukan..

Islam membenarkan memukul anak kalau itu merupakan jalan terakhir setelah dinasihati dengan lembut atau dimarahi dengan kata-kata, tidak dapat merubah sikap dan perbuatan anak itu. Tapi tidak semua orangtua mampu merotan atau memukul anak. Perasaan sayang yang teramat dalam, kadang kala orangtua lebih sanggup membiarkan saja perbuatan anak yang berulangkali daripada menghukum anak. Sepertinya maksud perpatah melayu “Sayang anak . di tangan-tangan kan” dan jangan sepertinya “ kecil-kecil menjadi anak, sudah besar menjadi onak”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here