Home Aceh Hari Raya: Tak Perlu Mewah, yang Penting Berkah

Hari Raya: Tak Perlu Mewah, yang Penting Berkah

Oleh: Jumratul Sakdiah

Tak lama lagi Ramadan pamit meninggalkan kita. Bulan yang senantiasa kita nantikan kehadirannya, berharap berjumpa dengannya dan bisa merengkuh kemuliaannya.

Tapi kini ia kan berlalu menghibahkan predikat takwa bagi mereka yang bersungguh-sungguh mengejarnya. Menyisakan luka yang amat dalam bagi mereka yang menyia-nyiakan kehadirannya.

 

Ramadan akan pergi, dan kembali pada hitungan tahun berikutnya. Berharap kita bisa membersamainya kembali dengan kualitas amal yang lebih baik dari sebelumnya. Begitu juga kondisinya, walau Ramadan tahun ini kembali tak bersama khalifah tapi berharap tahun depan telah ada khalifah yang siap bersama kita memimpin ketakwaan paripurna kepada Robb semesta.

 

Sudah menjadi lumrah di tengah masyarakat, saat lebaran tiba upaya menyambutnya dengan penuh suka cita. Bahkan 10 hari menjelang Ramadan banyak yang sudah menyibukkan diri untuk persiapan lebaran, sampai lupa terdapat kemuliaan luar biasa di akhir Ramadan.

Kita tetap berbaik sangka kepada mereka. Meskipun amat sangat disayangkan ini terjadi di setiap bilangan tahun Ramadan bersama kita.

 

Tak bisa dipungkiri kita hidup dalam rong-rong demokrasi yang dasarnya adalah cara pandang sekuler yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Sistem ini telah nyata tempatkan kebahagiaan terletak pada materi dan eksistensi.

Tak heran jika banyak masyarakat yang didikte karakternya. Menjadikan gaya hidup serba bebas, serba mewah serta memperoleh pujian bahwa ia telah berhasil genggam dunia. Sehingga dia lupa mengejar Rido Robbnya.

 

Tak heran jika gaya hidup ini terbawa di saat hari raya walau dalam kondisi pandemi. Di tengah kesulitan ekonomi, banyak yang memaksakan diri. Terkadang kebutuhan pokok belum terpenuhi tapi keinginan eksis senantiasa dijunjung tinggi. Sehingga meski dalam kondisi mematikan, tak sedikit masyarakat berduyun-duyun dan berdesakan baik di Mall, Pasar maupun tempat perbelanjaan lainnya.

Protokol kesehatan diabaikan dan bahkan tenaga medis akui kewalahan himbau masyarakat untuk tetap di rumah saja, mereka rela meninggalkan keluarga demi keselamatan bagi segenap bangsa tapi sedikit sekali yang mau bantu meringankan bebannya.

Karena faktanya sampai detik ini corona belum reda, tenaga kesehatan masih berjuang, vaksin belum ditemukan tapi rakyat malah mulai berdamai dengan Corona, entah siapa yang menyuarakannya.

 

Peningkatan jumlah terinfeksi corona di tengah Ramadan dan menjelang lebaran, bukanlah salah syariahNya. Tapi salah kebijakan dan realisasinya. Karena buktinya Islam memberi solusi untuk atasi pandemi, hanya saja banyak yang tak menghiraukannya.

 

Saat ini muslim telah biasa terdidik oleh sistem buatan manusia. Sehingga Islam dengan syariat sempurna yang mampu memanusiakan manusia tak dipandang dalam kehidupan. Wajar saja masyakat banyak yang keras kepala, tak terbiasa dibina aqidahnya oleh negara, tak dijamin ketundukkannya kepada Allah SWT.

Oleh negara. Karena nyatanya negara hari ini abai urus kepribadian rakyatnya. Rakyat dibiarkan menginstall pemikiran ala barat yang telah nyata mengubah gaya hidup muslim sesungguhnya.

Imbasnya, banyak pemangku jabatan di negeri ini yang tak takut dengan Tuhannya, berani menggelapkan uang bantuan seolah tuhan tak melihatnya, berani menimbun bahan pokok seperti tuhan tak selalu membersamainya, bahkan lebih ngeri lagi masih sempat buat kerja sama terencana demi kepentingan pribadinya.

 

Intinya, seorang muslim memahami bahwa dia ditakdirkan hidup di zaman ini tanpa ada kebebasan memilihnya. Tapi ingatlah ketaatan di setiap zaman adalah kewajiban dari Sang pengatur manusia. Sehingga tak pantas seorang muslim mengikuti arus zaman yang rusak lagi merusak.

Karena sejatinya iman di dada sebagai benteng dalam menghadapi setiap arus kehidupan di depan mata dan berusaha mengubah keadaan yang ada bukan berpangku tangan seolah pasrah bahwa ini memang sudah saatnya.

Seyogyanya walau dalam atmosfer seperti ini, akhlak seorang muslim tetap dikedepankan sebagai bukti ketaatan kita kepadaNya dan usaha mengubah keadaan dengan dakwah yang telah dicontohkan oleh tauladan kita Nabi Muhammad saw.

 

Berhentilah bermegah-megahan di hari Raya dan hari lainnya. Apalagi dengan kondisi mencekam seperti ini. Gunakanlah rezeki yang telah Allah hibahkan seperlu kebutuhanmu saja. Tak usah berlebihan. Karena Allah tak suka itu.

Pandangan mata terlihat masih ada yang tak bisa makan dan memiliki pakaian yang layak dipakai. Kebutuhan hidup jangka panjang juga perlu dipikirkan karena kita tak tahu sampai kapan pandemi ini bertahan.

Bayang-bayang pengangguran dan hilangnya mata pencaharian serta kebijakan selanjutnya yang kita tak pernah tahu kedepannya. Sudah tahu kan kita masih hidup dalam sistem yang menyensarakan.

Berhematlah, berhenti menghamburkan uang dan mulailah banyak bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Sembari terus berdoa semoga Allah tak meninggalkan kita sendirian.

Karena pada dasarnya tak perlu peroleh kemewahan tapi yang paling penting keberkahan dan peroleh ampunan serta penjagaan dari Allah ‘azza wa jalla.

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

 

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (TQS. Al-A’raf: 31).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here