Home Fokus Nasional Gender Perempuan di Era Millenial

Gender Perempuan di Era Millenial

47
0

Oleh : Nur Baity Mahasiswa Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

 

Berbicara perempuan memang tidak lepas dari konteks perilaku dengan berbagai pembatasan. Hal ini menjadikan perempuan di pandang lemah jika di bandingkan dengan laki-laki, padahal jelas sekali bahwa dalam islam seorang perempuan sangat-sangatlah di muliakan dan jauh mulianya di banding dengan kaum adam atau laki-laki.

Menurut Shorwalter, Gender mulai sering dibicarakan pada awal tahun 1977, ketika itu para sekelompok feminis yang berada di London tidak memakai lagi isu-isu lama seperti patriarchal atau sexist, akan tetapi menggantikannya dengan isu gender (gender discourse).

Namun, sebelumnya istilah seks dan gender digunakan secara rancu dan memiliki salah pemaknaan. Gender dimaknakan sebagai suatu bentuk rekayasa masyarakat (konstruksi sosial), hal ini tidak menandakan gender bukan sebagai sesuatu yang bersifat kodrati.

Namun, gender sangat jelas berbeda dengan seks, jika saja gender digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya, maka seks digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi.

Selain itu, dalam dimensi teologi, gender masih belum banyak dibicarakan, padahaljika dilihat persepsi masyarakat terhadap konsep gender banyak yang bersumber dari tradisi keagamaan.

Penyimpangan dalam peran sosial berdasarkan gender (gender inequality) dianggap sebagai divine creation, hal ini diyakini bahwa segalanya bersumber dari Tuhan, dan berbeda dengan persepsi para feminis yang menganggap ketimpangan itu semata-mata sebagai suatu konstruksi bagi masyarakat (social construction).

Dalam paham gender masyarakat tidak sepenuhnya mengerti dan memahami akan makna tersebut. Namun sekarang ini dengan perkembangan zaman masyarakat lebih mengerti dengan makna gender yang sebenarnya, makna gender dengan halnya mengalir menjadi sensitif gender yang kemudian berujung harapan gender yaitu responsif gender.

Nah, pada masyarakat sekarang ini konsep tersebut mengalir begitu saja. Dalam kategori perbedaan gender dalam segi peran antar laki-laki dan perempuan, perilaku yang dapat dipertukarkan antara laki-laki dan perempuan, dalam hal ini bukan makna jenis kelamin yang bawaan lahir bagi seorang laki-laki dan perempuan.

Dalam perbedaan peran ini terhadap perempuan yang dalam makna lain di pilih kasihkan dari pihak laki-laki. Seorang perempuan harus memiliki alasan yang kuat jika ingin mengakses atau memperoleh tingkatan secara setara dengan laki-laki, baik itu pendidikan, ekonomi, sosial, budaya maupun politik.

Maka dari itu, paham gender di negara-negara maju yang lain menjadi sebuah keharusan dalam membangun negeri dengan keadilan kesetaraan, dalam hal ini perempuan sangat di perlukan.

Pada tahun 1970, perempuan di cap atau di labelkan hanya sebatas pembantu rumah tangga. Dalam hal ini kesenjangan gender sangat terasa bagi kaum perempuan dengan sebab masyarakat yang buta gender.

Kemudian pada masa ini juga, seorang perempuan akan memperoleh kesempatan dalam pendidikan atau pengetahuan lebih lanjut dan tinggi, mereka diharuskan memiliki alasan yang sangat kuat dan juga memiliki batasan tertentu.

Berbeda halnya dengan kaum laki-laki yang memperoleh kesempatan secara luas dalam pendidikan. Hal ini disebabkan karena masyarakat yang buta gender.

Bentuk ketidakadilan gender yang dirasakan hampir semua perempuan yang bekerja di luar rumah demi membantu penghasilan suami.

Akan tetapi, sesampainya di rumah perempuan masih tetap harus bekerja ekstra keras dalam menyelesaikan pekerjaan rumah dan itu tanpa bantuan dari suami.

Ketika sang suami pulang kerumah, akan merasakan tenang tanpa beban kerja berbeda dengan seorang istri. Hal ini menjadikan beban ganda (double burden) bagi seorang perempuan dalam ketidakadilan gender.

Kemudian dalam Islam, paham dan konsep tentang gender memiliki terminologi tersendiri dalam memaknai peran antara laki-laki dan perempuan. Terdapat dalam surat al-quran dan hadits nabi yang ditunjukkan posisi dan perempuan.

Hal ini ditunjukkan melalui beberapa ayat al-Quran dan hadits yang berbicara mengenai posisi laki-laki dan perempuan. Bahkan ada yang namanya di salah satu Surat al-Quran yang berbicara dan menjelaskan khusus mengenai perempuan yaitu surah an-Nisa.

Hal ini jelas sekali membuktikan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kaum perempuan di bandingkan kaum laki-laki, karena tidak ada dalam al-qur’an yang menjelaskan khusus laki-laki atau tidak ada surah ar-rizal yang bermakna laki-laki, hal ini membuktikan bahwa perempuan lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan laki-laki.

Namun adakalanya penafsiran terhadap ayat dalam al-Quran yang parsial dapat menyebabkan penyimpangan peran berdasarkan gender masih saja terjadi di kalangan masyarakat.

Selain itu, zaman sekarang ini pembatasan gender bukan lagi hal yang asing didengar. Dengan terpengaruh akan teknologi yang serba ada dan dunia semakin modern ini, pembatasan gender terhadap perempuan semakin berkeadilan.

Hal ini juga di sanggupi dan tidak keluar dari ajaran syariat islam dan tetap masih mengkategorikan perempuan sebagai pedamping laki-laki dan sebagai pengurus dalam hal rumah tangga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here