Home Aceh Feminisme Merusak Perempuan, Syariat Islam Memuliakannya

Feminisme Merusak Perempuan, Syariat Islam Memuliakannya

304
0

Oleh: Jumratul Sakdiah

 

Santer. Publik dikejutkan dengan viralnya beberapa wanita berpakaian ketat tanpa hijab yang bersepeda (gowes) mengelilingi kota Banda Aceh. (kompas.com, 07/07/2020). Hal ini berhasil menyita perhatian para netizen. Betapa tidak, aksi tak ayal ini terjadi di nanggroe bersyariah, Aceh.

Aceh, dikenal sebagai wilayah dengan otonomi daerah. Diberi kewenangan untuk menjalankan sebagian dari syariat Islam. Baik kewajiban menutup aurat maupun sanksi berupa jinayat yang sudah dijalankan sejak beberapa tahun lalu.

Kendati demikian, Aceh masih berada dalam suatu negara yang menjalankan sistem kehidupan sekulerisme. Sehingga penerapan Islam di Aceh hanyalah sebagian dari kesempurnaan ajaran Islam yang mengatur semua lini kehidupan.

Saat ini, pemikiran kufur masih merajalela. Mengotori pemikiran kaum muslimin di seluruh dunia. Tak terkecuali Aceh. Dunia hari ini telah dirancang sedemikian rupa oleh Barat dan pengemban ideologi kapitalisme sekuler.

Yakni Amerika sebagai negara kampiunnya. Sehingga tak henti-hentinya mereka melakukan berbagai upaya untuk menyesatkan umat Islam dengan pemikiran yang mengubah cara pandang kaum muslimin terhadap kehidupan.

Ditambah lagi, derasnya opini feminisme di tengah-tengah umat Islam. Yang dengan paham ini memandang bahwa perempuan harus merdeka sama dengan laki-laki. Mereka menuntut kesetaraan gender yang menganggap aturan Islam, sebagai pedoman manusia telah mengubur kebebasan bagi perempuan. Misalnya, kewajiban menutup aurat.

Syariat ini dianggap terlalu mengekang perempuan dan mengganggu otoritas tubuhnya. Jadi dalam pandangan mereka ‘my body, may otority’ harus di pahami oleh semua orang. Untuk itu, masifnya para kaum feminis dalam menyuarakan aspirasi mereka melalui aksi turun ke jalan, membuat seminar maupun membentuk gerakan terencana untuk mengeksiskan paham mereka di tengah-tengah masyarakat.

Tak aneh, jika saat ini banyak yang bangga mempertontonkan aurat atau tubuhnya di depan umum. Tanpa dibungkus rasa malu dan takut akan murka Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka mengaku bebas melakukan apa saja yang dianggap membuatnya bahagia termasuk harus menggadaikan rasa malu dan imannya.

Bahkan yang akhir-akhir ini masih jadi perbincangan hangat di kalangan tokoh bangsa ini terkait proses legislasi RUU PKS menjadi undang-undang yang nantinya akan menjadi payung hukum bagi pegiat gender dan pengemban paham sesat itu.

Miris, jika paham ini mendominasi di tengah kaum muslimin. Karena antara Islam dan feminisme jelas bertentangan. Islam sama sekali tak seperti yang mereka bayangkan. Anggapan perempuan dikekang melalui syariat Islam adalah salah besar. Justru Islam sangat memuliakan perempuan.

Allah subhanahu wa ta’ala sebagai pencipta manusia, telah menurunkan syariat yang memanusiakan manusia. Kedudukan perempuan telah banyak disyarah dalam alquran dan hadis. Tak ada satupun bentuk deskriminasi terhadap perempuan.

Kewajiban menutup aurat bagi muslimah telah berhasil menjaganya dari fitnah dan syahwat. Namun, bukan berarti ketika ada kasus pemerkosaan terhadap perempuan menutup aurat dijadikan dalih bahwasanya Islam tak mampu menjaga mereka dari kejahatan seksual.

Karena syariat Islam tidak sebatas mewajibkan perempuan untuk menutup aurat namun secara bersamaan Allah mewajibkan pula bagi laki-laki dan perempuan untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya. Sehingga kedua hal ini saling menjaga terpeliharanya syariat itu dan kesempurnaan penerapannya.

Karena itulah syariat Islam menuntut kesempurnaan penerapannya dalam seluruh aspek kehidupan. Dan hal ini hanya bisa dijalankan oleh negara khilafah sebagai institusi pemerintahan Islam yang menjamin diterapkannya seluruh aturan Allah tanpa terkecuali.

Tentu, dengan ini akan menjamin perlindungan pada setiap hak-hak individu dan merupakan konsekuensi keimanan seorang muslim kepada Rabbnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here