Home Fokus Nasional Disorganisasi dalam keluarga

Disorganisasi dalam keluarga

58
0

 

Oleh : Dinda artikah batu bara

(Sosiologi agama, fakultas Ushuluddin dan filsafat) Uin Ar Raniry

Keluarga merupakan untik terkecil dalam masyarakat yang menurut tipenya terbagi dua yaitu keluarga batih yang merupakan satuan keluarga yang terkecil yang terdiri dari ayah, ibu, serta anak (nuclear family) dan keluarga luas (extended family). Dalam berumah tangga ikatan yang mempertalikan suami dan istri dalam perkawinan kadangkala rapuh dan bahkan putus sehingga terjadi pertikaian atau bahkan perceraiaan.

Terjadinya perceraian maupun pertikaiaan akan mengakibatkan fungsi keluarga akan mengalami gangguan dan pihak yang bercerai maupun anak-anak harus menyesuaikan diri dengan situasi yang baru. Peningkatan angka perceraian dalam masyarakat pun membawa gaya hidup keluarga yang bercerai pun berbeda misalnya hisup sendiri menjanda atau menduda, adanya anak yang harus hidup dengan salah satu orang tua, hidup terpisah dengan saudara kandung dan bahkan anak menjadi terlantar dikarnakan hubungan orang tua yang bermasalah.

Keluarga memiliki peran yang penting dalam pembinaan dan pengenalan nilai dan norma pada anak. Hal itu disebabkan karena keuarag atau orang tua adalah lingkungan dan tokoh utama dan pertama yang berhubungan langsung dengan anak sejak kecil.

Dalam kelurga seorang anak yang beranjak remaja akan mengalami proses sosialisasi yang biasanya diterapkan melalui kasih sayang, dalam proses sosialisasi tersebut keluarga mengenalkan dan menerapkan berbagai nilai-nilai dan norma kepada sianak sejak dini seperti nilai ketertiban, ketentraman. akhlak yang baik, nilai keagamaan, dan lainnya. Penenaman nilai dan moral pada anak sejak dini akan berdampak dan berpengaruh pada nilai dan moral yang dimiliki sianak ketikak dewasa. Baik dan buruknya moral anak sangat bergantung dan dipengaruhi oleh penerapan nilai dan norma dalamn keluaga.

Sayangnya, didikan moral tidak muda didapatkan oleh semua anak, dikarnakan tidak semua keluarga ataupun orang tua dapat memberikan bimbingan dan penerapan nilai dan norma yang baik pada anaknya. Banyak faktor yang menjadi pengahalang hal tersebut salah satunya yaitu disorganisasi keluarga. disorganisasi keluarga merupaka perpecahan keluarga sebagai suatu unit, karena anggotanya gagal memenuhi kewajiban yang sesuai dengan peranan sosialnya atau Kondisi dalam kelurga yang tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya

Biasanya fungsi keluarga gagal tercapai atau keluarga terpecah belah (bercerai) dikarnakan beragam hal. Mulai dari ketegangan dan konflik antara suami dengan istri hingga orang tua dan anak. Keluarga memiliki fungsi untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan, sperti biologis, ekonomi, sosialisasi, pendidikan dan masih banyak lagi, sehingga ketika hal tersebut tidak berjalan dengan baik maka akan terjadinya disorganisasi keluarga sehingga Dampak ketidak harmonisan dalam rumah tangga tersebut kemudian akan berdampak dan mempengaruhi perkembangan anak dan akan terbawa hingga si anak dewasa.

Adapun beragam macam penyebab dari terjadinya disorganisasi dalam keluarga, yaitu:

• orang tua yang menagalami masalah kecanduan baik itu kecanduan obat terlarang, minuman keras, belanja atau royal bahkan gila kerja. Bila terus berlangsung di depan anak, konidisi-kondisi tersebut akan mempengaruhi sianak.

• Adanya kekerasan fisik yang terjadi dalam keluarga hal ini tidak jarang terjadi seperti salh satu atau kedua orang tua menggunakan ancaman atau tindakan kekerasan fisik sebagai cara mengontrol anggota keluarga. Biasanya anak-anak yang mengalami dan pernah menyaksikan haltersebut akan hidup dalam ketakutan maupun keras kepala kondisi ini tentu akan berpengaruh pada perkembangan mental mereka.

• Masalah finansial juga mengakibatkan adanya disorganisasi keluarga biasanya dapat terjadi ketika salah satu atau kedua orang tua tidka mampu mencukupi kepuasan pokok, financial, maupun emosional keluarganya.

• Adanya pola asuh yang bersifat otoriter, salah satu keluarga atau kedua orang tua yang menerapkan pola asuh yang sangat otoriter terhadap anak. Orang tua tipe ini akan menuntut anak-anaknya untuk senantiasa tunduk pada norma-norma agama maupun budaya dan juga segala aturan-auran yang ditetapkan dikeluarganya yang merupakan tuntutan orang tua semata dan hrus menuruti semuanya tanpa pengecualian. Kondisi ini bisa memicu pemberontakan dari anak hingga berujung ada disorganisasi keluarga. (dikutip di parenting).

Secara sistematis, pola-pola hubungan yang menyebabkan disorganisasi keluarga akan menimbulkan kekerasan atau pengabaian anak. Sehingga dampak dari diorganisasi keluarga terhadap anak pada umumnya meliputi beberapa hal seperti dipaksa untuk memihak pada ayah atau ibu yang biasanya hal ini terjadi ketika konflik diantara kedua orangtuanya, mengalami reality shifting suatu kondisi ketika apa yang dikatakan atau dipercaya bertentangan dengan kenyataan. Misalnya saat orang tua yang menyangkal kasus kekerasan dalam keluarga yang disaksikan oleh anak namun mengatakan bahwa keluarganya baik-baik saja.

kemudian adanya pengabaian anak, dan tidak jarang juga adanya sikap terlalu protetktif terhadap segala hal yang dilakukan sianak sehingga mengakibatgkan ketidak leluasan pada sianak, adanya sifat pilih kasih atau membanding-bandingkan anak dengan anak orang lain, bahkan ada yang berujung pada kekerasa fisik. Oleh karena itu disorganisasi kelurga tidak hanya berdampak pada suami dan istri saja namun juga pada sibuah hati.

Untuk mengatasi disorganisasi kelurga, sebagai orang tua harus menyadari masalahnya terlebih dahulu. Kemudian bisa menerapkan beragam langkah seperti, berhenti mengomeli dan mengkritik anggota keluarga lain, dan orang tua perlu memberikan respon dengan sikap respek tanpa harus terlalu protektif pada anak, terutama pada remaja.

Hal itu akan membuat anak cenderung berkembang menjadi pribadi yang mandiri dan beratanggung jawab, hindari sikap mengahikimi dan menyalahkan, bangun komunikasi yang baik saling terbuka dan jujur bersama keluarga dan banyaklah menghabiskan waktu untuk berkumpul bersama keluarga, guna agar seluruh anggota keluarga bisa saling memahami dan terbuka dengan kondisi yang dialami satu sama lain.

Menjaga keharmonisan dalam kelurga tentunya sedikit sulit namun menerapkan perubahan-perubahan tertentu perlu waktu dan komitmen yang besar. Namun harus saling percaya bahwa dampak postif akan terjadi secara perlahan, kebahagian terjadi bukan hanya dikarnakan tempat maupun seseorang namun berasdal dari pola pikir kita. Apakah selalu positif atau negatif, pemikiran postif akan menghasilkan hal yang positif begitu juga sebaliknya. Seiring dengan berjalannya waktu dan saling memperbaiki dan mejaga kasih sayang didalam keluarga tentunya disorganisasi kelurga dapat diatasi.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here