Home Aceh Charlie Hebdo Potret Peradaban Tanpa Adab

Charlie Hebdo Potret Peradaban Tanpa Adab

204
0

Oleh ; Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Mengutip dari reuters.com tertanggal 2/9/2020, Presiden Perancis Emanuel Macron menyampaikan bukan ranahnya mengomentari keputusan majalah satir Charlie Hebdo untuk menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad SAW. Dia mengatakan, Perancis memiliki kebebasan untuk berekspresi. Namun kepala negara hipokrit itu dalam lawatannya ke Lebanon, mengatakan merupakan kewajiban bagi warga negara Perancis untuk menunjukkan adab dan hormat kepada satu sama lain dan menghindari dialog kebencian.

Sebuah editorial untuk menyertai kartun tersebut, dirilis bertepatan dengan dimulainya persidangan terkait penyerangan terhadap kantor Charlie Hebdo dan penembakan belasan karyawannya pada 2015. Serangan tersebut sukses menerbitkan simpati dunia. Namun sebuah misi busuk tak akan bertahan lama. Sejumlah pihak kemudian sadar ada sebuah operasi dinas rahasia, atau barangkali sebuah agenda anti Muslim di balik peristiwa tersebut.

Serangan terhadap Charlie Hebdo diikuti oleh serangan terhadap toko Yahudi. Serangan tersebut terlihat janggal dengan sejumlah indikasi, banyak pihak menyebut terdapat teori konspirasi anti Islam dalam upaya memojokkan Islam serta menaikkan pamor Yahudi dan Israel. Sejumlah rincian lain menyediakan bahan yang kaya untuk teori konspirasi, termasuk kartu identitas yang ditinggalkan salah seorang dari Koachi bersaudara dan gagang telepon yang tak diletakkan kembali secara benar di hook-nya.

Bahkan rute aksi pawai solidaritas pada 11 Januari di Paris telah menimbulkan keraguan yang signifikan. Pasalnya, ada klaim bahwa rute itu mencerminkan garis perbatasan negara Israel. Penyerangan terhadap toko serbaguna Yahudi malah menjadikan kaum Yahudi memperoleh perlindungan ekstra dari pihak kemananan Perancis. Mereka bahkan berhak atas pelayanan istimewa dari negara-negara Eropa. Menteri Perumahan Israel kala itu, Uri Ariel menyatakan akan menggusur penduduk Tepi Barat Palestina, dan membangun perumahan bagi Yahudi Perancis yang ingin pulang ke tanah yang dijanjikan.

Inilah akhlak peradaban sekuler penyembah kebebasan. Inilah watak demokrasi yang disodorkan kepada kita. Inilah peradaban tanpa adab. Masihkah ada pemuja demokrasi yang sanggup sesumbar dengan realitas ini??? Inilah peradaban yang digagas oleh para intelektual anti Tuhan.

Akhlak bersumber dari akidah, karena tidak ada akhlak tanpa dicelup akidah. Inilah kesaksian kita terhadap akhlak dari peradaban Marchiavellian. Inilah balas budi Eropa kepada Islam. Berabad-abad lalu masyarakat Eropa tidak lebih dari komunitas udik yang bertolak belakang dengan peradaban Islam yang gemilang, Khilafah Rasyidah.

Lavis da Rambou dalam karya sejarahnya mengatakan bahwa Eropa pada abad ke-7 M hingga sesudah abad ke-10 M seperti di Inggris dan Perancis yang merupakan negeri yang tandus, terisolir, kumuh dan liar. Rumah-rumah dibangun dengan batu kasar tidak dipahat. Dibangun di dataran rendah, berpintu sempit, tidak terkunci kokoh dan dinding serta temboknya tidak berjendela.

Wabah penyakit berulang-ulang datang silih berganti menimpa binatang-binatang ternak yang menjadi sumber penghidupan satu-satunya. Tidak ada keamanan, persis hidup dalam hukum rimba. Bangsawan dan orang kaya menghisap darah kaum papa. Bahkan para pecinta sepatu highheels akan terperangah jika mengetahui bagaimana sejarah kemunculannya di dunia fashion, yaitu untuk membantu para wanita-wanita dapat berjalan dengan baik agar tidak terkena kotoran manusia yang mudah dijumpai di jalan-jalan kota di Eropa saat itu.

Pada masa itu Eropa penuh dengan hutan belantara dengan sistem pertanian yang terbelakang. Dari rawa-rawa yang banyak terdapat di pinggiran kota, tersebar bau-bau busuk yang mematikan. Rumah-rumah di Paris dan London dibangun dari kayu dan tanah yang dicampur jerami dan bambu, tanpa ventilasi. Mereka tidak mengenal kebersihan. Kotoran hewan dan sampah dapur dibuang di depan rumah sehingga menyebarkan bau busuk dan meresahkan.

Pada masa yang sama kondisinya justru bertolak belakang dengan peradaban Islam. Pada saat itu peradaban Islam sedang berada dalam era keemasannya. Kota-kota metropolitan telah tumbuh dan memberi kebaikan di berbagai negeri dalam kekuasaan Islam, Khilafah Rasyidah. Fest, Baghdad, Granada, Damaskus, Cordoba, Sevilla. Anak-anak penguasa dan bangsawan Eropa bahkan menempuh pendidikan di kota-kota tersebut.

Khalifah Harun Ar-Rasyid pada abad kedua Hijriyah (807M) memberikan hadiah yang mengagumkan kepada temannya Charlemagne raja Perancis. Hadiah tersebut berupa jam besar setinggi tembok ruangan. Jam bergerak dengan tenaga air. Ketika waktu genap satu jam, jumlah tertentu dari bola-bola kecil tembaga jatuh secara beruntun sesuai dengan jumlah jam saat itu. Bola-bola tersebut jatuh dalam pangkalan besar yang terbuat dari tembaga.

Hal ini menimbulkan nada musik yang terdengar ke seluruh istana. Dalam waktu yang sama salah satu pintu dari dua belas pintu terbuka dan dari sini keluarlah penunggang kuda yang mengitari jam. Lalu ia kembali ketempat semula. Jam ini pada saat itu menjadi seni yang membingungkan bagi raja Perancis dan punggawanya. Sedangkan para pendeta istana meyakini bahwa di dalam jam terdapat setan yang menggerakkannya. Mereka pun mengintainya pada waktu malam. Lalu mereka hancurkan dengan alat penghancur. Hal ini disampaikan oleh Sedillot dalam tarikh Al-Arab.

Ketika Khalifah Al-Makmun berkuasa, ia kembali menghadiahkan jam yang lebih canggih kepada raja Perancis. Jam ini telah digerakkan oleh mesin yang berupa beban-beban besi yang diikat dengan rantai-rantai, sebagai ganti dari bahan penggerak air.

Glenn Leonard menjelaskan, “Seharusnya sikap Eropa kepada Islam jauh dari ungkapan-ungkapan mendiskreditkan. Mereka seharusnya berterima kasih kepada Islam untuk selamanya, bukannya mengingkari kebaikan Islam dengan membenci, meremehkan dan menghinakan Islam. Sesungguhnya Eropa sampai dengan sekarang ini-dengan jujur dan hati tulus-belum mengakui hutangnya yang besar bahwa ia telah mengenyam pendidikan Islam dan peradaban kaum Muslimin. Mereka menyadari fakta ini untuk beberapa dekade saja, yaitu tatkala orang-orang Eropa tenggelam dalam lautan kebiadaban dan kebodohan pada masa-masa kegelapan.”

Sementara Gustave Le Bon dalam The Arab Civilization menjelaskan, “Sesungguhnya peradaban Arab yang Muslim telah membawa bangsa-bangsa Eropa yang biadab ke alam kemanusiaan. Sesungguhnya Arab adalah guru kita orang-orang Eropa. Universitas-universitas di Barat belum mengenal sumber keilmuan selain karya-karya kaum Muslimin. Sesungguhnya Muslim Arablah yang telah memberi hutang kepada orang-orang Eropa, bahan materi, akal dan akhlak”.

Adalah Andalusia yang merupakan jembatan utama peradaban Islam dan pintu penting untuk proses transfer peradaban Islam ke Eropa. Andalusia yang merupakan bagian dari Eropa telah menjadi mimbar pencerahan peradaban selama delapan abad (92-897H/711-1492M) dikarenakan keberadaan kaum Muslim disana. Pencerahan ini dipancarkan melalui universitas, sekolah, perpustakaan, industri, istana, taman, ilmuwan dan sastrawan. Inilah yang menyelamatkan bangsa Eropa.

Selain Andalusia, terdapat jembatan lain yaitu Sacilia. Sacilia merupakan jembatan penting masuknya peradaban Muslim ke Eropa. Kaum Muslimin menaklukkan Panormus ibu kota Sacilia pada tahun 216H/1092M. Kaum Muslimin menguasainya selama 260 tahun. Ilmu pengetahuan dan seni mencapai kemajuan yang pesat. Para pencari Ilmu Eropa menyerbu Sacilia. Gerakan penterjemahan buku-buku Arab ke Latin dilakukan disana.

Aziz Ahmad dalam Tarikh Shaqliyah halaman 76 menyampaikan, Ahli geografi Muhammad Al-Idrisi membuatkan peta dunia untuk Roger II (1130-1154). Peradaban Islam telah menawan hati penguasa Eropa. Kehidupan istana Sacilia dalam kekuasaan Roger II dan Frederick II, tampak megah dan anggun meniru Cordova. Dua raja itu memakai pakaian dan cara hidup bangsa Arab. Bahkan tiga raja Normand di Sacilia mengunakan gelar-gelar Arab. Roger II menggunakan gelar Al-Mu`tazbillah, William I menggunakan gelar Al-Hadi Biamrillah, dan William II menggunakan gelar Al-Musta`iz Billah.

Charlie Hebdo boleh saja terus menebar kebencian namun bandul sejarah akan terus berputar, bangsa yang sombong dan angkuh akan tersungkur di puncak keangkuhannya. Betapapun canggihnya mereka merancang kebusukan, menghitamkan Islam, namun sejarah tidak akan pernah terhapus.

 

Di halaman bukunya yang lain Gustave Le Bon menulis, “Sejarah belum mengenal satu umat manusia pun yang mampu menghasilkan maha karya sebagaimana yang dihasilkan umat Islam. Sesungguhnya Eropa berhutang peradaban kepada kaum Muslimin. Umat Islam Arab adalah manusia pertama yang mengajarkan kepada seluruh manusia tentang bagaimana menyelaraskan kebebasan berpikir dengan kebenaran agama, dan merekalah yang mengajarkan kelompok-kelompok masyarakat Nasrani di Eropa tentang hal tersebut.

Atau jika menginginkan, Anda dapat berkata bahwa umat Islam Arab telah berupaya mengajarkan mereka tentang toleransi sebagai sifat manusia paling mahal. Sungguh, akhlak kaum Muslimin di bawah bimbingan Islam lebih utama dan lebih mulia daripada akhlak umat manusia seluruhnya.”

Wahai Eropa, tidakkah tersisa sedikit saja rasa malu pada diri kalian???

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here