Home Aceh Cerpen – Negeri Petro Dollar

Cerpen – Negeri Petro Dollar

214
0

Oleh : Cut Zhiya Kelana,S.Kom

Hari ini matahari sungguh terik sekali, membakar kulit ari. Kulihat para pemuda sedang bergotong – royong membuat parit baru. Mengapa selalu itu-itu aja yang difikirkan pemerintah, bongkar- gali tutup lagi setiap tahun asal sudah akhir tahun atau ramadhan mau menjelang. Apa mereeka gak lelah ya? Aku sendiri melihatnya lelah. Sudah lama hujan tak turun, meski turun hanya sebentar. Kata mamak dalam logat bahasa Aceh yang khas.

“Meu tanoh hana basah, meu bungong hana puleh glah (Tanah gak basah, bunga pun belum puas dahaganya)”.

Aku hanya menatap dan berdoa saja dalam hati. Hujan pembawa rahmat dan rezeki bagi manusia.Yah, sumurku mulai berwarna capucino atau nutri sari. Sebenarnya jika hujan turun air itu akan memutih. Tapi memang banyak daerah sedang dilanda kekeringan, kulihat tanamanku juga mulai mati, kacang panjang dll. Dan beberapa waktu lalu pun mamak bercerita bahwa di tempat nenek itu kesulitan air. Mereka harus beli, lalu untuk mandi dan BAB entah bagaimana? Hah… apa saja kerja pemerintah itu sich…hatiku mulai mendumel.

“Hana jadeh seumeurah mak? (gak jadi nyuci mak)” Tanya si Kakak
“Nyo uroe ta seumeurah, pajan leuh? Dari buno but han leuh-leuh (hari gini nyuci, kapan siap? Dari tadi kejaan gak kelar-kelar)” Mamak akhirnya mengungkapkan rasa lelahnya

Wajar semua ortu pasti akan merepet, jika kerjaan rumah tak kunjung usai dan tak ada yang membantu. Ditambah lagi, sudah 2 hari gas habis, terpaksa kami memasak dengan kayu, ngantri pun gak dapat apa-apa. Yah… lagi-lagi penimbun gas mengambil kesempatan disaat kita sedang susah gini. Anehnya Negeri Petro Dollar ini, disaat ladang gas dan minyak melimpah kami hanya mendapat “klimeh jih” (sisanya saja).

Aku pulang mengambil paket dari teman, alhamdulilah disaat seperti ini masih ada saja orang yang punya hati bagai emas. Mungkin tahu kami yang kelaparan, susahnya mencari pekerjaan membuat kami kadang sering menahan lapar, dan seadanya. Kulihat keponakanku sudah menunggu di pintu sembari tersenyum, mungkin berharap aku membawa jajanan kesukaannya. Balita itu kelaparan, atau tidak mau makan sejak sembuh dari sakitnya. Hampir sebulan kurasa sejak lockdown, kami tak bekerja.

“Gak da neuk (nak), Yaya gak bawa apa-apa” kataku padanya

Gadis 2 tahun itu pergi ke mamaknya, kembali menyusu. Miris rasanya, melihat para pemimpin negeri ini. Bersuka cita atas derita kami, sungguh nanti kami akan menjadi saksi atas semua kejahatanmu. Dan ku adukan kalian pada pemilik negeri ini yang sesungguhnya.

“Ya Rabb… segerakanlah kemenangan kaum muslimin, sungguh rindu rasanya hidup dalam negeri yang penuh berkah dan rahmat dengan syariatnya yang tinggi, dimana kau ridhoi” Doaku sebelum tertidur.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here