Home Fokus Nasional Cerpen : “Memimpikan Angan”

Cerpen : “Memimpikan Angan”

149
0

Oleh : Sartika Muin

Aku masih di sini. Terus memperhatikan jalanan yang makin hari terlihat semakin ramai saja. Orang-orang yang datang pun silih berganti. Dan itu sedikit membuat tempat tinggal kita ramai. Seperti biasa pula, aku cuma bisa duduk di dekat jendela memperhatikan dalam diam.

“Di? Ayo makan dulu.”

Aku menoleh. Wajah bersahaja itu tersenyum dari depan pintu, aku bangkit berdiri dan menuju ke arahnya.

“Jangan terlalu dipikirkan. Jaga kesehatan,” kata Mama.

“Iya!”

***

Aku suka melihatnya. Pria yang sejak kecil selalu bersamaku itu suka sekali membuatku tersenyum. Dia lebih dewasa dariku, delapan tahun selisih umur kami. Dia sudah seperti kakak sendiri bagiku, padahal kami hanya sepupuan. Dia terus menjagaku karena kami sama-sama anak tunggal.

“Dek. Sini, Abang ajarkan caranya berenang,” katanya.

“Gak mau. Abang suka iseng,” jawabku sambil menjauhi air sungai.

“Beneran. Abang gak iseng, Abang beneran ajarin.”

Aku masih bergeming. Terus menggeleng dan menampakkan wajah cemberut. Tapi, dia malah berjalan ke arahku dan menangkapku dan aku gelagapan di dalam gendongannya. Tapi rupanya ia tak main-main, dia melemparku ke air dan mengajariku berenang.

“Kan Abang bilang juga apa? Gak bohong.”

Aku cuma tersenyum sebagai tanda senang.

***

“Abang beneran akan pergi?” tanyaku.

Wajahnya terlihat kusut. Jelas sekali tak ingin meninggalkan kami semua keluarganya, tapi apa mau di kata, bahwa ia harus bekerja ke luar daerah. Jauh dari kami semua, keluarganya dan kasih sayangnya.

“Jaga diri ya, dek.”

Air mata tak bisa aku sembunyikan. Luruh begitu saja saat ia tak mengucapkan apa-apa selain kata tadi. Aku yang senantiasa selalu bersamanya, rasanya begitu kehilangan. Belum lagi, rasa yang puluhan tahun bersemayam semakin mekar dan rasa takut kehilangan semakin besar pula.

“Tunggu Abang ya?” katanya saat ia akan pergi.

“Iya. Adek tunggu!” jawabku.

Melepasnya begitu berat kurasa. Air mata tak kunjung berhenti walau mobil yang membawamu tak lagi terlihat. Mama cuma bisa memelukku dan tante Mega pun sama, karena mereka tahu aku dan dia seperti apa.

***

Aku mendengar kabar bahwa hari ini dirinya akan pulang. Setelah enam tahun pergi, akhirnya dia kembali lagi. Jelas saja, aku salah satu orang yang begitu bahagia menyambut kedatangannya. Kami sudah berdiri di depan rumahnya. Tante Mega terus mengukir senyum diwajahnya, om Bagas pun demikian, Mama tak bisa ikut menyambut karena ada hal yang harus ia lakukan.

Aku sudah seperti anak mereka. Karena Tante Mega, kakaknya Mama. Aku berdiri dengan harap-harap cemas menyambutnya. Tak lama mobil yang ditumpanginya dari jauh perlahan mendekat, degup jantung semakin menggila di dalam sini. Apa dia mengingatku? Apa dia sudah berubah? Apa dia tetap memegang janjinya? Karena aku masih menunggunya hingga detik ini.

“Assalamualaikum?”

“Wa’alaikumsalam warohmatullah.”

Kami menyambutnya dengan antusias. Wajah Tante Mega begitu bahagia, om Bagas langsung memeluk anak lelakinya. Mereka masih aku biarkan saling berpelukan, melepas rindu yang menggunung. Tak lama seseorang turun dari mobil dengan anggunnya, di ikuti oleh tubuh mungil yang terlihat lucu.

“Kenalkan Ma, pa. Ini istri dan anakku yang pernah aku ceritakan itu.”

Deg. Aku seolah terpaku di tempatku berdiri, mataku melabar kaget, selama ini? Jadi selama ini dia tak menepati janjinya? Selama ini dia bahagia dan aku yang begitu menderita menantinya dengan ketidak pastian.

“Assalamualaikum Ma.”

Perempuan itu mencium tangan Tante Mega dengan sopan, diikuti dengan gadis kecil disampingnya. Pandangan kami perlahan saling bertemu, air mata sudah siap terjun bebas jika aku tidak sekuat tenaga mencegah.

“Dian?”

Aku menatapnya. Mencoba mengurai senyum, dia perlahan mendekat dan aku mundur menjauh. Dia nampak kaget, tapi aku dengan cepat pergi dari situ. Sebelumnya sempat melempar kata.

“Aku bodoh. Terus menunggu, padahal tidak seperti yang aku bayangkan.”

#End

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here