Home Daerah BISNIS ONLINE DI TENGAH PANDEMI ? EFEKTIFKAH?

BISNIS ONLINE DI TENGAH PANDEMI ? EFEKTIFKAH?

96
0

Oleh ; Rafika salima

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Ar-raniry

Fakultas ushuluddin dan filsafat

Prodi sosiologi agama

Di tengah pandemi seperti sekarang ini banyak orang yang kesulitan dalam mencari rezeki, terutama bagi mereka yang sering menjajarkan barang dagangan nya di pasaran. Hal ini tentunya membuat perekonomian masyarakat menurun drastis.

Belum lagi pemerintah telah menetapkan beberapa aturan baru salah satunya adalah sosial distancing dan physical distancing demi memutus mata rantai penyebarab virus yang berasal dari wuhan, china tersebut.

Physical distancing lebih di kenal dengan “jaga jarak” pemerintah mengharapkan agar tetap beraktivitas di rumah dan tidak di anjurkan untuk keluar rumah jika tidak dalam keadaan darurat, hal ini di terapkan demi memutus mata rantai penyebaran covid-19.

Sampai saat ini kasus dari covid 19 belum juga selesai bahkan ada dari beberapa negara yang di perkirakan kedepannya akan mengalami gelombang kedua dari virus ini, jumlah angka kematian nyapun tidak main-main, secara global tercatat sebanyak 377.036 jiwa meninggal dunia.

Organisasi kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa covid-19 menular lewat percikan atau droplet, bukan lewat udara. Banyak orang yang mengira bahwasanya virus ini dapat menyebar lewat udara, nyatanya tidak ! virus ini menyebar lewat percikan, seperti bersin batuk dan lainnya, vurus ini juga dapat tertular lewat benda-benda yang kita sentuh.

Untuk itu pemerintah menganjurkan kepada masyarakat agar selalu menjaga kebersihan, dan tidak lupa pula untuk memakai masker, handsenitizer dan beberapa anjuran protocol kesehatan lainnya.

Hal ini membuat masyarakat menjadi tidak bebas dalam beraktivitas, belum lagi mereka yang harus keluar rumah untuk membiayai kehidupan keluarganya di rumah. Lalu bagai mana dengan mereka penjual yang ada di pasar? Jika tidak ada pembeli lalu bagaimana mereka bisa menghasilkan rupiah ?

Melihat permasalahan tersebut, para pelaku brand harus menyikapinya dengan cepat dan tepat untuk merubah strategi penjualannya, sehingga di harapkan tidak terjadi drop penjualan yang signifikan say di berlakukannya social distancing,” kata Tri yang juga menjabat sebagai Craiman Komunitas Indonesia Brand Network (IBN).

Untuk tetap dapat bertahan di tengah pandemic covid-19 ini, lanjut Tri, para pelaku brand harus bisa mensiasatinya. Mulai dari focus ke pemasaran digital melalui website yang di jadikan e-commerce, social media, search engine, penjualan melalui marketplace dan bentuk tim reseller untuk membanu menjual produk nya.

Ditengah masa-masa sulit pandemi covid 19 ternyata justru pedagang-pedagang di pasaran banyak yang beralih ke online shop, selain proses berdagang nya yang gampang, mereka juga tidak harus keluar rumah untuk menjajarkan barang-barang yang akan mereka jual, hal ini juga membuat mereka menjalani anjuran pemerintah dengan tidak beraktivitas di luar rumah.

Keadaan seperti ini justru tidak di sia-siakan bagi mereka yang mempunyai bisnis online shop, berbagai macam barang yang di sediakan oleh mereka, mulai dari peralatan rumah tangga, hingga jenis pakaian yang di butuhkan konsumen.

Wabah ini membawa bencana sekaligus peluang bagi para pedagang, mereka harus pandai-pandai dalam mengolah semua produk penjualan mereka di dalam bisnis online, para penjual harus punya taktik atau cara ,bagaimana barang dagangan yang mereka punya menarik minat konsumen untuk membeli nya.

Berbagai macam tawaran yang di berikan online shop belum lagi di adakan nya diskon besar-besaran, yang menarik minat konsumen untuk berbelanja.

Dengan adanya online shop semua kebutuhan konsumen dapat terpenuhi, sehingga memudahkan konsumen untuk tidak beraktivitas di luar rumah sekaligus tetap patuh dengan protocol kesehatan , dan juga mempermudah konsumen untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain mempermudah konsumen dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari online shop juga berdampak negative bagi konsumen salah satunya banyak oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan online shop sebagai ranah kejahatan, misalnya dengan tindak penipuan dan sebagainya.

Di tahun lalu (2019) tercatat sebanyak 2.300 aduan laporan penipuan online kepada pihak kepolisian, kasus penipuan di tahun ini yang paling banyak di terima oleh pihak kepolisian, Modus rekayasa sosial (social engineering) di gunakan untuk berbagai penipuan online, biasanya di gunakan untuk melakukan pengurasan saldo rekening, kartu kredit, dan maupun saldo dompet digital.

Maka kita sebagai konsumen harus bijak dalam memilih supplier yang benar-benar menjual produk yang kita butuhkan, tidak hanya bijak dalam memilih supplier namun konsumen juga harus pandai dalam memilih barang.

Ada banyak pilihan dan model jenis barang yang di tawarkan supplier kepada konsumen, untuk itu kita sebagai konsumen sebelum membeli barang baiknya konsumen juga harus mengecek mulai dari produk penjualan sampai detail bahannya, jika tidak , kemungkinan barang yang akan sampai tidak seperti yang kita harapkan.

Untuk itu sebelum membeli barang di online shop ada baiknya kita sebagai konsumen teliti dalam melihat produk dan supplier nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here