Home Aceh Bisikan Langit dan Sejuta Harapan Untuk Pemuda

Bisikan Langit dan Sejuta Harapan Untuk Pemuda

138
0

Oleh: Jumratul Sakdiah

Tak dipungkiri, akhir-akhir ini jagad sosial media sedang dihiasi dengan kabar gembira datang dari dua sejoli yang Allah pertemukan dengan ikatan pernikahan. Meskipun di tengah pandemi, ramainya pasangan pengantin yang datang berduyun menuju kantor urusan agama tak dapat dielakkan kebenarannya.

Undangan pernikahan hampir mengantri setiap harinya. Seolah semua berlomba memberitakannya. Usai itu, mulailah bermunculan foto pasangan pengantin yang duduk manis di mahligai kursi pelaminan, duduk rapi dengan senyuman lepas pertanda bahagia tak terkira.

Gelombang ucapan selamat tak lagi terbendung, datang dari Sabang hingga Meuroke. Batin para jomblo mulai menyeruak, muncul keinginan menyusul dalam waktu dekat. Sehingga semangat menikah menjadi santer di kalangan kawula muda khususnya.

Tentu hal ini tak bisa disalahkan. Karenanya menikah adalah jalan mulia dan solusi satu-satunya dalam merealisasikan cinta sebagai anugerah dari Yang Maha kuasa. Namun tetaplah diingat, BAB pernikahan adalah BAB panjang yang harus dipahami.

Mulai dari tujuan menikah sampai bagaimana membangun rumah tangga yang diridai Allah. Maka tentu semua butuh ilmu. Kendati demikian, persiapan menikah bukan satu-satunya bahasan tentang nikah tapi yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana mencetak pribadi yang bertakwa kepada Allah yang siap menjalankan perintah Allah di segala kondisi.

Baik selagi masih sendiri maupun sudah bersama pasangan halalnya. Kenapa demikian, karena Islam telah menjawab semua soalan kehidupan manusia dan menuntut penerapan yang harus ditegakkan semua aturanNya dalam segala lini kehidupan.

Menikah adalah ibadah sekaligus sunah nabi Muhammad saw. Namun menikah hanyalah salah satunya. Dan terkait jodoh, semuanya telah ditetapkan Allah, bahkan 50.000 tahun sebelum penciptaan manusia. Maka posisi seorang muslim disini adalah meyakini itu dan berikhtiar sebagaimana yang telah diatur dalam agama ini.

Sekali lagi, bukanlah sekehendak hati hingga berakhir kepada jalan yang dimurkaiNya dan mengundang kesensaraan karena tak berpedoman kepada apa yang telah ditetapkan Allah subhanahu wata’ala.

Apalagi, gencarnya isu ini seolah menutup hakikat pernikahan itu sendiri. Berujung kepada kesalahpahaman akan sakralnya ikatan suci tali pernikahan yang seharusnya menjadi ladang pahala bagi yang menjalankannya. Tetapi berakhir pada mengumbar kemesraan semata.

Isu ini jangan sampai melalaikan seorang muslim dari memperkaya tsaqofah Islam yang luas dan berhak dipelajari secara keseluruhan. Serta lebih dari itu tuntutan menyelesaikan persoalan umat yang kian bertambah juga harus menjadi perhatian. Lihatlah kondisi sekarang. Ketiadaan Islam dalam segala lini kehidupan menjadikan masalah yang datang hampa penyelesaian.

Pandemi misalnya, virus Corona merupakan makhluk Allah tak kasat mata telah menampakkan kebobrokan sistem ini mengatasi masalah manusia. Upaya pencegahan penyebarannya terikat akan kepentingan para pemodal yang menjadi penghambat berhentinya laju penyebaran virus mematikan ini.

Bukan hanya itu, resesi ekonomi global sudah di depan mata. Korban kekejaman sistem kapitalisme demokrasi telah menelan korban yang tak terhitung jumlahnya. Berharap solusi datang dalam waktu dekat tetapi tak mau mengambil Islam sebagai sistem kehidupan sama saja masuk ke lubang kegagalan yang sama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here