Home Daerah Arsitek Peradaban Langit

Arsitek Peradaban Langit

299

0leh: Eqhalifha Murad

Eks Pramugari, founder KAMUSYARIFAH (Komunitas Muslimah Syar’i Hijrah Kaffah)

Pada tulisan sebelumnya yakni “Menulis Diatas Awan” saya sudah ceritakan tentang salah satu cita-cita masa kecil yang banyak yakni arsitek, kok bisa? Awalnya ketika menyukai pelajaran menggambar sejak SD, menggambar bidang datar maupun bangunan persegi atau prisma dengan simetris. Hoby menggambar atau melukis pemandangan gunung atau pantai dengan pensil khusus atau cat air. Rata-rata nilai yang didapat adalah delapan plus, bahkan ada yang dapat sembilan. Sedangkan sejak sekolah TK sudah sangat tertarik dengan bongkar pasang balok kayu utk membuat bangunan atau istana dan gerbang serta jembatannya.

Semua aktivitas pelajaran ini sangat menarik dan menantang. Sampai sekarangpun masih suka mendesain sendiri bentuk interior rumah impian jika punya sebidang tanah seluas separuh lapangan bola, aha. Sampai akhirnya pucuk dicinta ulam pun tiba, apakah saya sudah mendapatkan yang diinginkan? Tentu saja belum, namun yang pasti tentu lebih besar dari sekedar lapangan bola. Insyaallah. Kecintaan akan mendesain sesuatu gayung bersambut ketika beberapa rekan menyumbangkan keahliannya dalam mendesain konten creator dakwah. MasyaAllah wa Barakallah.

Lihatlah bagaimana Allah mendesain skenarionya untuk saya. Awalnya ketika saya salah menempatkan urutan jurusan untuk diajukan ke UGM (Universitas Gajah Mada) dan USU (Universitas Sumatera Utara) sebagai Mahasiswa Undangan tanpa tes masuk perguruan tinggi. Dengan syarat nilai rata-rata dari kelas satu selalu meningkat atau menyandang peringkat juara kelas. Tentu saja sebagai langganan penyabet peringkat juara satu di kelas dari sejak kelas satu, saya sangat memenuhi kriteria tersebut. Kecuali pernah sekali turun peringkat dua di kelas, lantaran banyak ketinggalan pelajaran dan ketinggalan ulangan harian karena mengikuti agenda Pramuka Internasional selama lebih kurang satu bulan.

Selanjutnya, karena di SMA saya di tempatkan di jurusan kelas Fisika atau A1 maka pilihan jurusan untuk mengajukan Mahasiswa Undangan juga disesuaikan. Itulah mengapa saya tidak bisa mengambil kedokteran karena itu hak mereka yang dari jurusan Biologi atau A2. Selain itu saya memang tidak beminat, begitu juga dengan jurusan perawat bahkan polwan sekalipun.

Jurusan yang tersedia untuk kelas Fisika A1 antara lain adalah jurusan Fakultas Teknik. Tentu saja saya mengambil jurusan Teknik Arsitektur. Kemudian untuk cadangan saya ambil jurusan Teknik Elektro program studi Telekomunikasi. Berhubung pada masa itu sedang trennya PT. Telkom membuka ikatan dinas kerja tanpa tes kepada lulusan ini. Ketika saya salah menulis dan menempatkan urutan jurusan, dimana urutan pertama adalah jurusan Teknik Elektro Telekomunikasi, sedangkan urutan yang kedua adalah jurusan Arsitektur, saya merasakan kekeliruan dan penyesalan. Saya diterima tapi dijurusan Teknik Elektro Telekomunikasi. Jika saja jurusan Arsitektur saya tempatkan diurutan pilihan pertama besar kemungkinan saya akan diterima di jurusan Arsitektur.

Sekarang pun saya mengerti bahwa dalam hiduppun harus ada urutan prioritas sehari-hari. Mana yang lebih utama, wajib, sunah, mubah, makruh atau bahkan haram. Karena itu akan menentukan posisi kita dihadapan Allah kelak. Apakah akan jadi karyawan tetap Allah ataukah karyawan kontrak sementara, kesayangan atau laknat Allah.

Begitu juga ketika dihadapkan dengan pilihan yang sama antara mengerjakan yang wajib dengan yang wajib maka dipilihlah yang lebih utama. Seperti halnya ketika akhirnya saya diterima dikedua universitas tersebut, ini sangat menakjubkan. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengambil yang di UGM, tapi lebih memilih di USU karena lebih dekat dari orangtua.

Lihatlah betapa indah Allah mengatur kembali skenario untuk saya yang hina ini. Tidak terbilang nikmat hidup yang dicurahkan dan ini bukan masalah materi. Saya berani katakan Allah sedang mempersiapkan saya menjadi seorang penerus generasi arsitek peradaban yang akan datang dan mengguncang dunia. Tentu saja.

Nikmat yang mana yang akan didustakan. Kalaupun cita cita masa kecil kembali belum terlaksana, paling tidak Allah memberikan sesuatu yang paling tidak mendekatkan saya kearah cita-cita tersebut. Contohnya lagi ketika ada keinginan menjadi duta besar atau diplomat, ini juga pernah ditulis sebelumnya tentang beberapa cita-cita masa kecil. Saya cuma bisa terkesima ketika melihat ada teman yang kuliah di jurusan HI (Hubungan Internasional), karena hanya yang ditempatkan di jurusan Sosial atau A3 yang di perbolehkan mengambil jurusan ini.

Tapi sekali lagi Allah menjawab keinginan saya dengan mengizinkan saya mendapat ilmu dari mempelajari kitab bagaimana cara bernegara dalam Islam. Tak tanggung-tanggung sayapun mempelajari bagaimana cara yang shahih mendirikan sebuah negara. Saya tidak perlu masuk kuliah di universitas agar expert menguasai bidang yang satu ini. Karena Islam ajarannya begitu sempurna, mencakup seluruh aspek kehidupan.

Apakah ini radikal? Jelas ini sangat radikal sebagaimana arti dari radikal itu sendiri yakni keras terhadap perubahan yang hakiki. InsyaAllah cita cita tentang duta besar ini akan saya tulis pada judul berikutnya. Tentu Mush’ab bin Umairlah duta inspirasinya. Begitu juga dengan satu hal yang nyaris lupa saya ceritakan diantara beberapa keinginan masa kecil yang banyak lainnya yakni ingin jadi Presiden haha. Maka tak mungkin tidak dalam mendidik anak-anak sendiripun dipenuhi dengan visi misi ini yakni mewujudkan generasi pemimpin peradaban Islam yang mulia. Yang dikenal dengan istilah Khalifah not President. Kedudukannya bahkan tentu lebih tinggi dari sekedar seorang presiden bahkan raja sekalipun.

Well, yang ingin saya sampaikan adalah sekarang saya cukup puas menjadi seorang arsitek dakwah. Dakwah mewujudkan bangunan lanjutan kehidupan Islam. Bangunan yang sempurna secara kaffah sehingga meliputi dan menaungi penghuni didalamnya. Yakni umat islam. Yang hampir satu abad imperium ini disuguhkan desain sekuler yang nyaris menghancurkan tatanan kehidupan mereka. Yang hanya cukup puas dengan bangunan Nasionalisme yang sempit.

Umat telah lama hidup terlunta-lunta tanpa bangunan yang menjadi benteng dan perisai mereka dari gempuran sekulerisme. Habitatnya dihancurkan sebagai gantinya dipaksa hidup bagaikan ikan didalam aquarium yang sempit, bahkan mereka sering kehabisan air, yang tersisa bahkan kotor dan tidak layak pakai. Sehingga menghancurkan sendi- sendi kehidupan dan akidah mereka.

Saya juga disadarkan bahwa saya harus membangunkan umat dari tidur panjangnya, ditempat yang telah memaksa mereka beradaptasi dan menentukan hidup sendiri tanpa ada yang meriayahnya. Bahwa mereka pernah punya bangunan megah dan sudah porak poranda. Dan harus didesain ulang serta bersama-sama bangkit mewujudkannya.

Melanjutkan bangunan kehidupan Islam yakni negara dan agama sebagai pondasinya. Bangunan institusi sistem pemerintahan Islam yakni Khilafah. Ya, hanya Khilafahlah habitat tempat mereka kembali agar ridha dan tenang jiwanya diatas jalan Allah dan kembali padaNya dengan bangga. Institusi Islam yang akan menegakkan bangunan seluruh Syariat Islam secara Kaffah. Bagi seluruh umat manusia tidak hanya muslim. Just only Khilafah not Democracy. Sekarang giliran kamu, mau jadi Arsitek Peradaban atau Sampah Peradaban?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here