Home Fokus Nasional Antisipasi Baby Boom Pasca Pandemi

Antisipasi Baby Boom Pasca Pandemi

46
0

Oleh : Melsa Novelina, STr.Keb

“Corona Negatif, Istri Positif”. Begitulah rumor yang sekarang beredar di tengah masyarakat. Tak hanya dianggap sekedar rumor namun hal ini haruslah menjadi suatu persoalan yang selayaknya mendapatkan perhatian .

Memang lebih bijak jika kita menilai dampak dari wabah ini tak hanya dari segi kematian tapi juga dari segi kelahiran.

Sejak Maret 2020 penularan Covid 19 meningkat pesat. Hal ini berpengaruh langsung terhadap program pelayanan KB seolah terabaikan oleh kondisi bencana yang terjadi.

Dari hasil pelayanan KB Indonesia terjadi penurunan secara nasional dari masing-masing jenis alokan (alat kontrasepsi). Sehingga di masa pandemi ini rentan terjadi kehamilan yang tidak diinginkan (unwanted pregnancy) atau kehamilan yang belum diinginkan waktunya.

Alokan jenis pil yang biasanya terdistribusi 251.000/bulan se Indonesia mengalami penurunan menjadi 146.000 di bulan Maret ini. Begitu juga alokan jenis suntik yang paling banyak digunakan mengalami penurunan hingga 500.000/bulan.

Bahkan alkon jenis kondom yang diharapkan meningkat jumlah penggunanya juga ikut mengalami penurunan hingga 31.000/akses.

Kondisi ini terjadi karena pada masa pandemi Covid 19 memberikan impact pada family planning. Diantaranya banyak klinik yang tutup dan tidak siap menghadapi musibah pandemi, rantai pasok alkon yang terganggu, produksi alkon terbatas, ganti cara metode jangka pendek yang kegagalannya tinggi atau bahkan diskontinyu.

Masyarakat yang merasa khawatir bersentuhan dengan tenaga medis dan menunda ke faskes untuk mendapatkan pelayanan KB. Dari ini semua diperkirakan akan ada 47 juta wanita usia subur di Indonesia yang akan merasakan dampak dan pengaruhnya.

Dalam kondisi pelayanan yang normal, maka jumlah kelahiran sebanya 4,7 juta pada tahun 2020. Dengan adanya pandemi, persoalan pada pelayanan, maka potensi terjadinya kelahiran atau kehamilan yang tidak diinginkan akan meningkat. (Proyeksi Situasi Kependudukan dan Program KB Nasional 2020).

Jika dibiarkan kondisi seperti ini maka kehamilan akan melonjak. Hasto Wardoyo, kepala BKKBN Jakarta menjelaskan. Jika dari 100 pasangan suami-istri yang sedang dalam masa subur melakukan hubungan badan dua-tiga kali seminggu tanpa alat kontrasepsi, maka 15 diantaranya akan hamil. Sementara jumlah pasangan usia subur di Indonesia ada 28 juta.

Jika 2,8 juta pasangan tidak menggunakan kontrasepsi selama masa pandemi ini maka kemungkinan akan terjadi 400.000 kehamilan tiap bulan. Jika dibiarkan selama dua tiga bulan maka akan naik menjadi 5,6 juta kehamilan.

Golongan yang paling tidak diuntungkan dalam situasi seperti ini adalah mereka yang lemah secara ekonomi, kurang pendidikan, dan tinggal di wilayah pedalaman. Tak hanya wanita usia subur, namun wanita usia yang beresiko tinggi untuk hamil dan melahirkan (usia 40 tahun ke atas) namun masih aktif secara seksual dapat mengalami KTD.

Selain itu pertimbangan untuk menunda kehamilan selama masa pandemi ini adalah pelayanan tidak semudah biasaya. Ibu hamil biasanya akan mengalami mual muntah, daya tahan tubuh menurun, anemia dan rentan terjadi abortus, sementara akses ke pelayanan kesehatan terbatas.

Untuk itu diharapkan kepada para akseptor khususnya suami-istri untuk tetap memperhatikan dan berperan aktif dalam program family planning ini. Memeriksakan diri dan mendapatkan pelayanan KB di fasilitas kesehatan.

BKKBN dan segenap jajaran kesehatan lainnya saat ini juga akan kembali bersinergi untuk memberikan pelayanan yang paripurna demi terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan pelayanan kontrasepsi.

Memang hamil dan melahirkan adalah hak segala bangsa. Namun kembali diharapkan apa yang telah penulis paparkan diatas dapat menjadi perhatian kita semua.

Terimakasih.

Dariku, sahabat mu. Sahabat wanita.
_Melsa Novelina_

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here